Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

SIHIR BAHASA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Bahasa Melayu –yang kemudian menjadi bahasa Indonesia— sudah sejak lama mengandung dan mengundang sihir. Ia menyimpan kekuatan magis. Siapa pun yang berhubungan intim dengannya, bakal terjerat pesona. Menggaulinya laksana menggerayangi sesosok tubuh yang penuh misteri. Semakin mengenal selok-beloknya, semakin ingin mengungkap daya pukaunya. Di situlah, bahasa Indonesia berfungsi sebagai saluran ekspresi. Ketika bahasa etnik mampat dan gagal menjadi alat komunikasi yang dapat dipahami etnik lain, ketika itulah bahasa Indonesia tampil sebagai pilihan.

Bagi siapa pun yang lahir dan dibesarkan dalam kultur etnik, bahasa Indonesia ibarat doa pengasihan yang mengerti hasrat kreatifnya. Ia membebaskan beban linguistik etnisitas, sekaligus juga membuka ruang penerimaan kultur dan bahasa lain, meski kemudian dipandang sebagai perilaku menyerap unsur asing atau daerah. Akulturasi seperti terjadi begitu saja, alamiah. Bahasa Indonesia menjelma produk …

Keretamu Tak Berhenti Lama

Ratih Kumala
http://www.riaupos.com/

BEL itu berbunyi empat ketukan dengan nada yang membosankan. Seolah lonceng bubaran sekolah, penghuni stasiun serempak menjadi awas dengan pengumuman yang akan diworo-woro setelahnya. Aku tengah terkantuk-kantuk ketika bel itu menyentak, menyadarkanku dari lelap yang belum lengkap.

Pengumuman dikumandangkan bahwa kereta api dari Bandung tujuan Stasiun Malang tiba di jalur tiga. Bagi para penumpang yang telah membeli karcis tujuan ke Malang harap bersiap-siap sebab kereta api tak akan berhenti lama. Dalam pengumuman itu tak lupa diingatkan agar orang-orang menjauh dari jalur kuning yang telah ditandai. Area aman untuk berdiri di dekat jalur rel, agar tak tersambar kereta lewat. Para porter tentu saja tak mengacuhkan pengumuman untuk menjauh dari jalur kuning. Mereka menyambar pintu kereta dengan kelincahan kaki yang terlihat lihai. Meski kereta tak berhenti lama, ada sebagian orang yang turun di Stasiun Tugu, Jogjakarta, ada pula yang naik menuju ke M…

Snack Estetis dan Gizi untuk Mengisi Diri

Yang Tergantung Pada Amanat...

Nyoman Tusthi Eddy
http://www.balipost.co.id/

KETIKA saya menjelaskan makna dan fungsi amanat dalam karya sastra, seorang siswa bertanya, ''Kalau karya sastra tidak punya amanat berarti tidak berguna bagi kehidupan. Jadi apa gunanya dibaca?'' Ini sebuah pertanyaan kritis, meskipun menunjukkan si penanya belum memahami fungsi sastra; sehingga ia tergantung pada amanat.

Sastra memiliki dua fungsi yaitu fungsi individual dan fungsi sosial. Fungsi ini tidak menunjukkan mutu sastra itu. Mutu sastra yang diukur dari fungsinya hanyalah pernyataan yang bersifat mengukuhkan fungsinya.

Sutan Takdir Alisyahbana pernah mengatakan karya-karya prosa Putu Wijaya hanyalah kegilaan estetik. Pernyataannya ini menandakan Sutan Takdir Alisyahbana juga tergantung pada amanat. Ia secara konsisten menempatkan sastra sebagai alat pembentuk budaya bangsa. Dengan demikian sastra yang bermutu adalah sastra yang memiliki fungsi sosial dan amanat yang jelas.

Apa pun fungsi…

Sastra Peter Pan

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

NOVEL Budi Darma, Olenka, meninggalkan kesan mendalam pada kerja kepengarangan banyak sastrawan. Setidaknya dari kehadiran catatan interteks, dalam ujud catatan kaki rujukan referensial, yang cermat diusahakan oleh pengarang. Yang dihadirkan untuk menunjukkan semua kejadian, peristiwa dan kilasan batin yang dialami tokoh [Fanton Drummond] dalam novel itu bukan fantasi kosong tanpa asal, dan sebab - yang dibuktikan oleh pembenaran referensial teks lain.

Segala - tak hanya: sebagian besar - rekaan yang fix jadi bagian dari pengalaman hidup sang tokoh [Fanton Drummond] sesungguhnya diawali dan dipicu oleh peristiwa, pengalaman dan bacaan pengarang. Meski dengan tegas -tersirat - Budi Darma membedakan dirinya dari Fanton Drummond, yang diandaikan dan diutuhkan dengan empati, fantasi, pengalaman dan sugesti fakta teks [yang ada di dalam tahap tak-sadar atau bawah-sadar] di luar Olenka.

Manusia rekaan Fanton Drummond itu ada konteksnya, Amerika. A…

Udo Z. Karzi; Pembuka Ruang Gelap!

N Teguh Prasetyo
http://www.lampungpost.com/

Terbukanya sebuah ruang yang selama ini gelap dan tertutup tak terjamah merupakan satu pesan yang amat sangat terasa saat dilakukannya peluncuran buku Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi yang dibarengi diskusi tentang bahasa Lampung yang digelar Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Senin (3-3) yang lalu.

Mengapa pesan tersebut amat terasa? Tentu saja, pertama, disebabkan selama ini bahasa Lampung dapat diibaratkan bagai katak dalam tempurung. Sebab, sebagai bahasa daerah, bahasa Lampung amat sangat terbatas penggunaannya. Bahkan masyarakat asli Lampung sendiri sepertinya sangat enggan menggunakan bahasa itu dalam melakukan komunikasi kesehariannya.

Ini terlihat pada masyarakat Lampung yang tinggal di daerah perkotaan. Selama ini, mereka hanya menggunakan bahasa Lampung pada kalangannya sendiri. Misalnya, pada anggota keluarga ataupun pada saat ada pertemuan atau acara perkumpulan masyarakat Lampung. Sedangkan…

BUKU SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN

Fariz al-Nizar
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dalam nomenklatur filsafat ilmu, Jujun Suryasumantri memberikan ilustrasi menarik, sebuah ilustrasi unik tentang “segitiga cinta” yang disimbolkan oleh kebudayaan, ilmu dan tekhnologi di pihak lain, dalam uraiannya Jujun menjelaskan bahwa pada dasarnya segitiga yang melatarbelakangi simbiosis antara ketiganya adalah dikarenakan cakupan yang satu lebih luas dari yang lainnya, secara herarkis Jujun menyebutkan bahwa kebudayaan melahirkan ilmu dan ilmu pada gilirannya nanti anak beranak-pinak yang kelak di sebut dengan teknologi (Jujun Suryasumantri: 2004) tapi yang pelu dititik tekankan dalam tulisan kali ini adalah tentang kebudayaan yang erat kaitannya dengan karya sastra.

Karya sastra lazimnya karya-karya yang lain sering kali lahirnya dilatarbelakangi oleh satu peristiwa yang misalnya menimpa sang sastrawan, baik itu berupa pengalaman pribadi atau lainnya atau selain itu biasanya karya sastra sering terlahir dikaranakan lebih se…

Rumah Kayu Bersendi Batu

Zelfeni Wimra
http://www.riaupos.com/

Sebelum Mak Mondolani memergokiku tengah bingung di depan rumah kayu bersendi batu itu, aku baru saja kembali menyisir lereng bukit bersama seseorang yang bila kukenang membuat sendi-sendi tulang di tubuhku dialiri arus ngilu. Seseorang sejak hari itu tak pernah mau lagi bertemu denganku.

Kali terakhir itu, ia menemuiku di pinggir sungai dekat batu-batu sebesar kerbau bergelimpangan. Deru riam yang berhamburan dari hulu membuat pendengaranku terganggu saat menyimak penjelasannya. Untung yang mesti aku pahami darinya bukan kata-kata, tapi isyarat lewat gerekan jari tangan dan getar bibir delimanya.

Mula-mula ia menyalamiku. Hangat tangannya masuk ke pori-poriku menyapa semacam rasa rindu karena sudah lebih dua tahun tidak bertemu. Setelah kami bersitatap dalam ragam rasa, ia menunjukku diiringi dengan gerakan seperti orang menulis. Aku paham. Ia menanyakan kabar kuliahku. Ia mengangguk-angguk senang ketika aku mengacungkan jempol.

Ia tentu juga tahu, ka…

Menggagas Sastra Bertipikal Madura

http://www.surabayapost.co.id/
Atiqurrahman

Eskapisme kultural tengah melanda susastra Madura. Hal tersebut tampak dari keseragaman eksplorasi karya-karya yang diciptakan. Lacur yang terjadi, sastrawan-sastrawan Madura tak menyadarinya. Timbul tanda tanya: bagaimana nasib susastra Madura selanjutnya?

Marilah simak bersama. Dasawarsa terakhir susastra Madura dijumbuhi karya-karya yang bertipikal pesantren. Kreatornya kebanyakan alumni-alumni pesantren. Tema yang diangkat adalah problem keagamaan, misalnya, hubungan manusia dengan Tuhan, cinta pada Tuhan, dan keinginan bersatu dengan Tuhan. Selain tema tersebut, praktis tak ada tema lain yang coba dieksplorasi oleh sastrawan-sastrawan Madura.

Mengapa hal tersebut terjadi? Mungkin semangat jaman membentuk kondisi demikian. Mungkin ada kesepahaman tentang “apa itu sastra, agama, dan sastra-agama”? Mungkin juga, keseragaman ini dilatarbelakangi oleh kesuksesan sastrawan-sastrawan pendahulu yang memokuskan problem karyanya pada wilayah yang kud…

Yin-Hua

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/

Metropolitan ini serba kusut
Tiada hari tanpa macet
Apalagi
Kini muncul si jago serobot
Bus Way
Macet di mana-mana
Ada yang bilang
Bangun saja kereta bawah tanah
Ada yang usul
Bikin saja monorel
Banyak pula yang berseru
Ah! Tak macet itu bukan Jakarta!
Bus Way
Bus Way
Melancarkan atau
Memacetkan
Wong cilik jadi
Bingung

(Bus Way, Song Hoa, Jakarta 5 Mei 2004)

Inilah sajak Bus Way karya Song Hoa, seorang penyair yang tergabung dalam Komunitas Sastrawan Yin-Hua (Indonesia-Tionghoa), yang kegiatannya semakin marak seiring bertiupnya angin reformasi di bidang politik dan kebudayaan sejak tumbangnya Orde Baru. Puisi Song Hoa dapat ditemukan dalam Seribu Merpati, Bunga Rampai Sastra Yin-Hua (2006) yang diterbitkan bekerja sama dengan PDS HB Jassin.

Menurut Jeanne Laksana, Ketua Yin-Hua, sebagian besar pengarang Yin-Hua kini berumur 50 tahun ke atas. Meski dilahirkan di Indonesia, tapi mereka dibesarkan dalam lingkungan pendidikan dan kebudayaan Tionghoa dan Indonesia. Mere…

Sajak-Sajak Nirwan Dewanto

http://cetak.kompas.com/
Boogie Woogie
—untuk Umar Kayam

Di Broadway, hanya di Broadway
langit bisa menggirangkan diri
dengan merah, semu merah,
merah Mao, merah Marilyn Monroe,
meski di setiap sudut surai salju
mengintai hendak memberkati
ungu magnolia musim semi,
hitam legam seragam polisi,
kuning taksi dan sepatu Armani,
kuning kunang-kunang tak tahu diri.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
sungguh merah tak pernah sampai
ke surga, betapapun ia meninggi
melampaui puncak menara tertinggi,
menjinjing jantung paling murni,
jantung tercuci kuas Balla dan Boccioni.
Di Broadway, hanya di Broadway
merah terkalung tenang ke leherku
(leher kadal gandrung Ragajampi)
sebelum memecah memanjang
seperti akanan, ketika gelombang
jingga memecah pasukan pemadam api,
kelabu membajak lidah para padri,
hijau terampas dari mata Lorca dan Marti.
Tapi di Broadway, hanya di Broadway
langit seperti berbentuk huruf Y
sebelum si lelaki rapi dari Amsterdam,
lelaki lencir kelam seperti daun pandan
(kuhapus namanya di sakuku: Mondriaan)
memb…

Puisi-Puisi Mustofa W Hasyim

http://sastrakarta.multiply.com/j
PEMAKAMAN WARTAWAN
- Udin

Berita
dikafani malam

Liang lahat
menunggu bunga

Yang terbunuh langkahnya
diusung doa

Bocah
tergenang pertanyaan

"Ibu, kapan Bapak selesai
berwawancara dengan Tuhan?"

Makam
jadi lautan gelombang

"Engkau tidak mati
karena berani bersaksi."

Daun bambu gugur
mencium rumput kering

"Arus bisa berbalik
menabrak musm."

Lihatlah
keajaiban waktu
Kematian tidak membusukkan
justru menyuburkan kata

1996



JUSTICE NOT FOR ALL

Cermin
berwajah murung

Hakim gemetar
di seberang meja

Dasi
lapar

Rokok klembak
patah di tengah sidang

Bagai air terjun
yang atas menimpa yang bawah

Lantai tempat berpijak
berlubang seluruhnya

"Rumput
jangan menjangkau langit!"

"Terima kasih."

1995



MENUJU KOTA BUNTU

Asap
setajam pisau

Mengelupas
kulit kota

Debu berjanji
benghiburmu

Tiang-tiang
melawan bendera

Lagu berkeping
melukai bunga

Anak sekolah
mendorong langit ke jurang

1995



MENYEBERANG GELOMBANG
Bima

Setelah malam
siang menjadi pantai

Setelah siang
malam menjadi gelombang

Me…

PERI CANTIK ATAU HANTU FEMINISME?

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/

Perempuan itu kelembutan bathin, kehalusan air, hati yang mengarus. Jiwanya ombak senantiasa memiliki keyakinan, yang menampilkan pamor kecantikan. Keteguhannya, kesabaran mengaliri tiap-tiap cela kehidupan. Tanpa dirinya, dunia kering-kerontang tiada ricik-gemericik tangis bayi para insan. Dan kaum lelaki tongkat estafetnya, saat menyadari pentingnya kembang jiwa.

Ini bukan kehendak menuturkan siang-malam, tapi menciptakan kesatuan harmoni, fajar rahmat, senja temaram yang berpelukan. Dalam percumbuan manis, kreasinya terus menggelora, menyedot bak magnit atau garam guna-guna, yang disebar di setiap pepintu lelaki melangkahkan kaki ke luar rumah.

Senyum penantiannya sepenuh harapan, melihat dunianya membawa manfaat laki-laki menjejakkan kepercayaan, meneruskan langkah sebagaimana nafas-nafas doa. Bukan berarti berdoa tanpa aktivitas, kreativitasnyalah harapan.

Wanita bukan pemancing atau ikannya. Ia mampu jadi penjala paling l…

Nguping

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus.

“Sudah tinggal saja!” kata Ami, “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. Tampangnya juga jelek, miskin lagi. Kamu kok mau-maunya sama dia. Tinggal saja. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya pada kamu. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Cinta boleh, tapi terlalu cinta itu berbahaya. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!”

Bu Amat langsung kaporan pada suaminya.

“Bapak harus mengambil tindakan tegas!”

“Tindakan apa?”

“Ami tidak boleh bicara begitu!”

“Kenapa?”

“Itu kan bukan urusan Ami!”

“Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?”

“Itu bukan nasehat, itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?”

“Ya itu hukum alam!”

“Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang.”

“Ya apa salahnya?”

“Salahnya, kalau ternyata pemutusan hubungan itu sa…

Kisah Pertemuan Dua Naskah

Judul Novel : Pucuk Cinta Bougenville
Penulis : Sitta Wulandari
Penerbit : Akoer, Jakarta
Cetakan : I Oktober 2008
Tebal : 202 Halaman
Peresensi : Sungatno*
http://cawanaksara.blogspot.com/

Bersama besutan cerita Wulandari ini, pembaca akan menemukan oase emajinasi yang menakjubkan. Dengan sebuah cerita berbingkai yang dicampurkan olehnya, menjadikan novel ini lebih berwarna dan membuai pembaca. Kita akan diajak memasuki dimensi-dimensi kehidupan waktu dan tempat yang berbeda. Namun, belum sampai kita terlalu tenggelam, dengan gesit Wulandari segera menggulung emajinasi pembaca dan mengembalikannya dalam cerita pertama.

Selanjutnya, cerita diarahkan kembali pada kelanjutan cerita yang berbeda dan digulung hingga kesekian kalinya untuk menjemput cerita yang pertama. Lebih asyik, fluktuasi cerita diiringi bahasa yang renyah, unik dan kocak serta dipadu dengan diskripsi khazanah budaya masyarakat desa pegunungan hingga muncul suatu kesan yang mengharukan.

Adalah Aura Meydiana Supit, sebuah nama y…

BELAJAR MENULIS DARI EKA KURNIAWAN*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Dalam gagas utama MataBaca, edisi September 2005 (hal. 10-11), salah satu penulis muda produktif dan banyak mengolah cerpen yang berangkat dari obsesi tertentu, rajin membuat catatan perjalanan atau penelitian sederhana. Pengarang ini adalah Eka Kurniawan. Di samping itu dia berpesan kepada kita begini (a) menulislah tentang hal apa saja yang kau ketahui dan (b) naskah yang ditolak dapat kita otak atik lagi, diedit lagi, kemudian dikirimkan ke media yang lain.

Sebagaimana Ucu Agustin, pesan tertolaknya tulisan merupakan peringatan agar kita dapat memperbaikinya kembali. Kalau Ucu berpesan ketika tulisan ditolak nggak usah gelisah maka Eka Kurniawan bilang lebih dari itu untuk kiranya dapat diperbaiki kembali, diotak-atik lagi. Dengan begitu, kita akan dapat melihat kekurangannya. Apalagi biasanya, koreksi dan saran dari redaktur diiringkan dalam penolakan itu.

Ibarat penjual kue seorang penulis perlu rajin untuk menawarkan dan terus meningkatk…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan