Jumat, 26 Desember 2008

Geliat Penyair Muda Madura

S Yoga
http://www.suarakarya-online.com/

Madura selain terkenal sebagai pulau garam dan tembakau ternyata menyimpan banyak potensi, di antaranya dunia kepenyairan, sastrawan. Ini bisa kita lihat dari beberapa nama yang sudah malang melintang di dunia kepenyairan, sebut saja D Zawami Imron, Abdul Hadi WM, yang lebih muda lagi Jamal D Rahman, Ahmad Nurulah, Syaf Anton WR dan Hidayat Raharja.

Sedang yang masih setia tinggal di kampung halamanya selain D Zamawi Imron, yang terus berbaur dengan msyarakat dan keromantisan desa pesisir, ada Syaf Anton dan Hidayat Raharja. Yang lain meski tinggal di Jakarta tapi masih terikat dengan kampung dan adat, bila sewaktu-waktu ada acara keluarga maka mereka berdatangan ke kampung halamannya, sehingga karya-karya merekapun masih ketara nafas Maduranya, karena ikatan batin itu susah untuk dihilangkan.

Kita lihat karya-karya Abdul Hadi WM dengan nafas kesufiannya, Jamal D Rahman dengan kesunyian dan kesufian yang lebih muram meski dengan nafas baru dan Amhad Nurulah yang gelisah akan tradisi dan kenangan lampau yang akan tergilas modernisme. D Zamawi Imron masih setia dengan roh keagamaan yang dipadu dengan keromantisan pedesaan dan pesisiran, seperti puisi Ibu yang terkenal itu.

Dewasa ini di Madura bermunculan penyair muda, sehingga majalah sastra Horison pun, yang di pimpin oleh Jamal D Rahman, sampai memberikan edisi khusus kepada penyair-penyair muda Madura, baik yang masih tinggal di Madura atau merantau ke kota besar. Ada juga penyair muda lain yang cukup aktif menulis di media masa.

Penyair-penyair muda di Madura saat ini nampaknya memandang kemaduraan mereka dengan lebih rileks dan tak terbebani identitas lokal yang artifisial. Sebut saja nama-nama M Faizi, M Fauzi, R Timur Budi Raja, Muchlis Zya Aufa, Moh Hamzah Arza, Bernando J Sujibto, Hamidin, Mahwi Air Tawar, Sofyan RH Zaid, Ali Ibnu Anwar, M Zamiel El-Muttaqien, Ahmad Muchlish Amrin, Edu Badrus Shaaleh, Ibu Hajar (pengasuh rubrik Sastra Udara di Radio Nada). Abdul Hadi (masuk 15 puisi terbaik lomba cipta puisi Direktorat Kesenian Dirjen Nilai Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan puisinya yang berjudul "Madura XX") dan satu-satunya penyair perempuan Jumairiyah Mawardy.

Dari penyair-penyair muda ini yang kualitasnya cukup terjaga adalah M Faizi, M Fauzi, Moh Hamzah Arza dan Ali Ibu Anwar.

Melihat geliat penyair-penyair muda Madura ini secara kewilayahan ternyata belum merata ke segenap daerah di Madura, masih didominasi penyair dari Sumenep, hanya ada satu penyair dari Bangkalan yakni Timur Budi Raja, sedang Pamekasan dan Sampang tidak ada penyairnya, tentu saja penyair yang karyanya dapat dipertanggungjawabkan.

Penyair muda Madura ini bila ditilik dari latar belakangnya, khususnya di Sumenep, tumbuh dan berkembang dari pondok-pondok pesantren, di antaranya yang banyak menyumbangkan para penyair adalah Ponpes Al-Amin Prenduan dan Annuqayah Guluk Guluk. Sehingga secara umum karya-karya mereka bernafaskan atau beraura pesantren, kalau tidak mau dibilang sastra pesantren, tentu saja dengan cita rasa yang lebih baru.

Memang rata-rata dari mereka pernah nyantri, kemudian ada yang meneruskan kuliah di kota. Karya-karya mereka juga menampakkan diri sentuhan-sentuhan dari pergulatan mereka dengan dunia diktat atau intelektual sehingga menampakkan diri dalam puisi-puisi yang berwacana intelektual yang bernas dipadukan dengan personalitas.

Kenapa sastra lahir di pesantren? Inilah salah satu pertanyaan yang dapat dijelaskan, karena antara agama, filsafat dan sastra, selalu bergandeng tangan, namun menempuh jalan yang berbeda-beda menuju satu muara yakni memanusiakan manusia atau moral.

Di mana dunia pesantren, tentu saja menekuni dan selalu mengkaji agama secara lebih mendalam, di sana juga selalu dilantunkan ayat-ayat suci. Seolah mereka sedang membaca puisi kehidupan dan sambil mempelajari maknanya. Disinilah wawasan mereka terasah dan menampilkan dirinya dalam sosok puisi-puisi mereka. Ada juga pengaruh dari tradisi di desa, di mana di wilayah-wilayah pedesaan Madura masih banyak kegiatan-kegiatan macapatan dalam setiap ritual masyarakatnya, sehingga tanpa disadari kognisi mereka menyerap sastra lisan baik dari rima, irama dan lagunya, disinilah kekayaan batin mereka bertambah. Sehingga muncul pula dalam karya-karya dalam kelancaran berbahasa, bernuansa pedesaan atau mengenang masa kecil.

Pada tahun 1997, KSI menerbitkan dua jilid buku puisi, Antologi Puisi Indonesia, yang juga didominasi penyair muda. Yang kemudian dikomentari oleh kritikus sastra Budi Darma di Kompas dalam sebuah artikelnya, dia menyatakan bahwa banyak puisi-puisi yang bagus-bagus dalam antologi itu, namun karena semua bagus, maka susah untuk mencari yang terbagus (istimewa), atau kalau mau dibilang susah mencari penyair yang terbagus dan memiliki karakter kuat.

Ketika Budi Darma diwawancarai Sony Karsono dalam Jurnal Prosa, tentang karya-karya sastrawan muda Indonesia, ia menyatakan karya-karya mereka ibarat wanita benar-benar sangat cantik, namun ketika didekati dan diajak bicara, nampaklah kebodohan atau ketidakcerdasan.

Ada pula seorang Sosiawan Leak ketika mengomentari dunia perpuisian di tanah air, yang sama dengan komentar Ribut Wijoto, seorang kritikus muda Surabaya, di mana karya-karya puisi yang banyak tersebar di media massa (tentu saja tidak semua) apabila nama-nama penyairnya dihapus dan disuruh seorang pengamat sastra untuk menebak puisi-puisinya siapa saja yang sedang dimuat itu, maka ia tak akan dapat menebaknya karena karya-karya mereka menampakkan keseragaman, alias berkarakter lemah, yang menunjuk jati diri penyairnya. Bahkan banyak yang terus menerus dihantui sejarah sastra dengan nuansa-nuansa Sapardi Djoko Darmono dan Afrizal Malna, muncul dalan lanskap-lanskap karya mereka.

Rupanya karya sastra atau puisi tidak cukup berdasarkan ketrampilan berbahasa saja. Hal ini sudah lama diutarakan Subagio Sastrowardoyo ketika mengomentari antologi puisi Abdul Hadi WM, ketika awal kepenyairannya, Laut Belum Pasang, yang secara umum puisi-puisinya berbentuk sketsa atau berhaiku dengan ketrampilan berbahasa yang sudah tidak diragukan lagi.

Namun Sugagio menyatakan kalau ingin jadi penyair sungguhan karya semacam itu tidak cukup, kurang lebih ia mengatakan bahwa penyair harus memiliki sebuah obsesi yang jelas dan kuat. Dari kritik itu maka lahirlah karya-karya Abdul Hadi WM yang cukup terkenal seperti Madura dan Ombak Itulah.

Subagio sebelum meninggal juga pernah mengutarakan dalam Festival Seni Surabaya, bahwa kepenyairan haruslah mendapatkan Wahyu Cakraningrat, yang mana wahyu itu adalah tradisi, ia mengatakan bahwa sebagai penyair hasruslah belajar banyak terhadap tradisi. Bahkan WS Rendra pun mengakui bahwa puisi-puisinya hanyalah meneruskan tradisi, mempertimbangkan tradisi. Dan tradisi ini bisa banyak macamnya, ada sastra lisan, pantun dan macapat misalnya, juga kebudayaan, pesantren, pesisir, argaris dan alam pikir masyarakatnya. Akan lebih jelasnya baca Bakat Alam dan Intelektualisme, karya Subagio Sastrowardoyo.

Bila kita cermati karya-karya penyair muda Madura, secara umum memang tidak secara harafiah menguar identitas lokal, namun dari langgam atau rima, irama dan kelancaran berbahasanya, maka nampaklah bahwa aura sastra lisan nampak kuat, seperti juga yang dilakukan para pendahulunya.

Hal ini berbeda dengan puisi-puisi lima penyair Jawa Timur dalam Cakrawala Sastra Indonesia, yang "didakwa" sebagai puisi gelap oleh Abdul Hadi WM, di mana apokalipsa yang mereka gaungkan belum dapat memberikan kearifan, sehingga ia merasa tidak mampu menyelami puisi-puisi mereka, bahkan ketika membicarakan puisinya W Haryanto, ia tidak mau masuk, takut tersesat karena benar-benar gelap menurutnya.

Di sinilah letak potensi besar yang dikandung para penyair muda Madura, dengan kekuatan sastra lisannya yang sudah bermetamorfosa dalam bentuk yang lebih modern, untuk dapat berkembang dikemudian hari.

Namun demikian ada baiknya penyair-penyair muda ini agar dapat berkembang lebih dinamis, selalu bermawas diri, selalu bersikap terbuka, tidak anti kritik, menghargai pendapat orang lain, karena perbedaan merupakan roda demokrasi dan roh kebudayaan.

*) Penulis alumnus Sosiologi FISIP Unair, seorang penyair tinggal di Sumenep.

Kisah Kesuksesan Pelajar Tanpa Pengajar

Sungatno*
http://cawanaksara.blogspot.com/

NOVEL teranyar Simon Winchester yang berjudul The Professor and the Madman ini,menghadirkan kisah anak desa dari rakyat Inggris (James Murray) yang meraih kesuksesan dalam mengarungi hidup melalui pendidikan yang dicipta sendiri alias autodidak.

Anggaran pendidikan yang diberikan orangtua kepada James Murray ternyata tidak dapat menyanggupi kelangsungan pendidikan James di lembaga pendidikan formal, yang bernama Grammar School.Dengan terpaksa,James diharuskan berhenti menimba ilmu di Grammar School.

Keadaan seperti itu ternyata tidak menyurutkan semangat James menimba ilmu. Dengan hati pasrah dan menerima kenyataan ekonomi keluarganya, James berusaha tidak menyalahkan orang lain, apalagi mengutuk pemerintah yang tidak memperhatikan pendidikan dirinya. Walaupun tanpa belajar di Grammar School, James memanjakan hasratnya untuk meneguk pengetahuan dengan belajar sendiri atau autodidak.

Melalui buku-buku––yang didapatkannya secara tidak sengaja atau dari perpustakaan––dia belajar ilmu pengetahuan. Untuk menjaga dan meningkatkan semangatnya dalam menimba ilmu secara autodidak, di setiapbukulatihan,Jamesmemasang kata-kata penyemangat di halaman bagian depan, yakni Knowledge is Power(pengetahuan adalah kekuatan) dan Nihil est Melius Quam Vita Diligentissima (tak ada yang lebih baik dari hidup yang sangat rajin) (hlm.54).

Berkat kerajinan dan ketekunan, pada usia lima belas tahun, James dapat menguasai bahasa Inggris,Prancis, Italia,Jerman, Yunani, dan Latin. Berbekal penguasaan bahasa yang cukup mewakili bahasa dunia waktu itu, James dapat lebih leluasa dalam menggali ilmu dari berbagai buku. Karena hasrat mencari ilmu yang lebih tinggi semakin menjadi-jadi, James rela menanggalkan kariernya. Kemudian bersama keluarga, James urban ke London.

Di sana James belajar bahasa Hindustan dan Persia Achaemenid. James kemudian berkenalan dengan Alexander Allis (ahli matematika) dan Henry Sweet (ahli fonetik). James bergabung dengan anggota Philological Society (Himpunan Filologi) ternama di London (hlm.67). Pada April 1879, James Murray ditunjuk sebagai editor kamus Oxford English Dictionary (OED) yang akan digarap. Karena masih kekurangan data (kata), dia mencetak 2.000 lembar selebaran.

Usaha penyebaran undangan yang dilakukan James pun tidak sia-sia. Undangannya direspons positif oleh para pengguna bahasa Inggris dan tidak terkecuali Dr William C Minor. Dr Minor adalah seorang narapidana Broadmoor dari golongan narapidana yang kesehatan jiwanya tidak stabil,kadang sembuh dan kadang kambuh.Minor menjalani hukuman karena menembak George Marret sewaktu penyakitnya kambuh.Di sela-sela kesembuhannya, Minor memanfaatkan buku-buku perpustakaan yang tersedia untuk mengisi waktu luang.

Singkat cerita,proyek penyusunan kata dari bahasa Inggris tersusun sukses hingga menjadi 12 jilid buku, kemudian diberi nama Oxford English Dictionary (OED). Sampai sekarang kamus ini diakui dunia sebagai karya agung.Kamus paling otoritatif yang menjadi acuan para hakim, pembuat undang-undang, cendekiawan, filsuf,pengarang,dan pengguna bahasa Inggris pada umumnya.

Kesuksesan-kesuksesan yang diraih para penikmat OED ini, ternyata tidaklah lepas dari semangat, kerajinan dan ketekunan para penimba ilmu yang tidak berhadapan langsung dengan gurunya.(*)

*) Sumber: Media Indonesia,17/06/2007

Bumi Asih

A Rodhi Murtadho
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/

Bumi dan Asih terus berkasih. Di tengah jelaga malam maupun di terik siang. Jiwa beraga petang di selimut kerinduan. hayal menggelepar di senyum kecut dahaga hening. Bumi merana dalam sendiri. Terinjak-injak sepi dalam kekalutan. Apa mau dirasa hanya berpulang gelisah.

Wajah bumi melas mengeras. Batas sudah lepas. Kewajaran dari tipu daya. Kering kerontang merana. Segala isi dikeluarkan. Semburat tanpa pesan. Hanya meninggalkan sampah. Restu berpulang ketika petang. Dengan halang, terus saja menyediakan. Bumi merasa kosong. Melayang tak karuan. Rotasi dan revolusi sudah tak pada lintasan. Sering kandas dan melenceng. Kekuatan telah hilang.

Sengat gravitasi menganaktirikan. Burung-burung raksasa bermuatan manusia ditempa. Tak stabil melayang. Ada yang dipatahkan dengan tekanan. Ada yang diceburkan. Tenggelam. Pelampung-pelampung penuh daya kecurangan diguncang. Terbakar atau tenggelam. Hanya peringatan yang hendak disampaikan. Tak diindahkan. Hanya kesedihan meradang.

"Asih, kau tahu. Aku tak pernah meratap atas tindakan manusia yang dilakukan padaku. Apapun adanya. Aku hanya menjalankan tugas. Tapi sunggguh benar-benar manusia sangat keterlaluan," Bumi serius berkata.

"Lalu bagaimana lagi Bumi. Aku sudah menebarkan auraku berupa kasih pada banyak hati kelam di kegelapan malam," Asih merayu menenangkan.

Terjal menghempas di kegalauan. Saling memikir tak saling bertanya lagi. Hanya mencerna tindakan manusia yang gagah berdiri di atas Bumi. Mengepak-ngepakkan kaki di sembarang tempat. Mencakar-cakar dan mencarut-marutkan. Memberi lubang dan menanduskan Bumi yang sebenarnya lebih perkasa. Bumi diam.

Asih tahu kalau Bumi marah. Asih memaki manusia dengan sapaan kasih dan rayuan maut. Menaklukkan terjal dan kerasnya hati manusia. Memasuki pori-pori kebekuan. Mencairkan dengan hangat deru nafas.

"Jangan kau teruskan Manusia, Bumi akan marah. Kau tahu bukan. Bumi lebih perkasa dari dirimu. Seandainya aku tak memancarkan asih-kasihku pada Bumi, tentu emosi dahsyat akan keluar. Kalau tak kucegah, Bumi akan melibas kalian. Tentu duniamu berakhir. Aku tak bisa mencegah terus-terusan. Kau tahu bukan! Bagaimanapun aku melarang, Bumi masih saja memainkan peran emosinya. Sedikit bencana untuk peringatan, begitu kata Bumi padaku. Kau harusnya merasa malu dan menyadari kelalaianmu," Asih pelan-pelan melarang.

"Aku tak peduli. Bumi diciptakan untukku. Bukannya pantas kalau aku menggunakan dan memanfaatkan Bumi sesuai keinginanku."

"Kau sudah kuperingatkan dengan Welas asih yang kumiliki. Bersabar atas tingkahmu. Perbuatanmu mengubah wajah bumi sungguh tak bisa berterima. Kau gundulkan kerindangan. Kau gantikan kehijauan. Menanduskan kesuburan. Gedung-gedung pencakar langit kau dirikan. Menutup semua dataran dengan rumah. Sampai-sampai Bumi sesak bernafas. Semua demi keuntunganmu semata. Uang dan kehormatan. Aku hanya ingin kau bisa menghormati dan menghargainya. Membalas kebaikannya dengan kebaikan. Menjaga dan melestarikan. Bukan malah tambah menghina dan merusaknya."

"Lihatlah yang akan kulakukan dan apa yang bisa dilakukan Bumi kepadaku!"

Manusia membuka celana. Memlorot. Dengan bangga mengeluarkan air seni. Bumi dikencingi. Muncrat ke sana kemari membasahi tak merata. Bau pesing dan apek membuat Bumi tak lagi bisa menahan amarah yang lama terpendam. Bumi menggoyangkan tubuh. Mengumpulkan air dalam kemihnya. Dipersiapkan untuk mengguyur manusia. Bumi ingin membalas. Mengencingi manusia. Segera muncrat. Air busuk bercampur lumpur. Tepat mengenai raut muka yang sebelumnya riang. Mendadak lesu dan terancam.

"Kau! Manusia memang tak pernah tahu diri. Aku sudah bersabar dengan apa yang selama ini kau lakukan. Tapi kau seakan tak pernah mengerti, aku juga ingin dihormati dan dihargai walaupun aku tak pernah memintanya. Kukikra kau sebagai khalifah, tahu diri. Membalas keuntungan yang kau dapat dariku dengan melestarikanku,” kata Bumi.

"Lantas apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menuntutmu. Membawa perkara ini kepada Tuhan."

"Ha! Menuntut. Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku setelah kau menuntut. Kau hanya bisa menuntut dan hanya menuntut. Harusnya kau sadar kalau kau diciptakan Tuhan untukku."

"Baiklah kalau itu maumu. Ternyata kau belum juga sadar. Sedikit bencana sudah kuturunkan dari perbuatanmu menyakiti hatiku. Namun kau tak sadar juga. Aku masih bersabar, aku akan memberimu waktu. Kesabaran ini atas permintaan Asih. Sebaiknya kau perbaiki kelakuanmu dan memikirkan kembali perbuatanmu padaku. Jika kau tidak berubah, aku akan benar-benar melakukan penuntutanku dan merealisasikan bencana,” terang Bumi

"Kau mengancam."

"Iya sebaiknya kau pikirkan," sela Asih, "aku juga akan menuntutmu, bukan hanya bumi. Sebaiknya kau pulang dan berpikir. Aku dan Bumi sudah muak melihat tampangmu."

Senja berlalu berkali-kali. Angin tetap saja berhembus. Matahari juga masih memekikkan panasnya. Waktu bersinggasana dan menjadi penentu. Detik berlalu. Menit dan jam otomatis ikut melagukan waktu. Hari, minggu, bulan terus berlayar mengarungi jeruji dalam atap ketidakberdayaan. Hanya berlalu tak memikir yang lalu. Hanya tahu masa depan. Tak peduli meski banyak yang meminta mereka kembali mengulang. Kembali pada masa. Kembali kepada yang ingin diperbaiki.

Bumi semakin panas. Tingkah Manusia tak juga berubah. Bumi mengumpulkan banyak unsur yang ada. Air, Angin, Api, Lumpur untuk dipanggil dan diajak merundingkan sesuatu yang akan dilakukan kepada manusia. Saling mencurahkan isi hati mereka. Uneg-uneg yang juga lama bertengger dalam benak dan jiwa mereka. Uneg-uneg yang sama mengenai kebiadaban manusia. Memperlakukan mereka seenaknya.

"Kita satukan kekuatan dan memberi bencana pada Manusia. Tentu Manusia akan merenung dan memikirkan betul-betul: Mengapa kita melakukannya? Dari situ, tentu tingkah mereka akan berubah," usul Angin yang disambut hangat dan anggukan setuju dari semua yang hadir.

"Baiklah," tegas Bumi menyahuti, "kalau semua setuju dengan usul Angin, kita bersama-sama akan melakukannya mulai besok. Sudah sesuai peringatan yang aku berikan dulu pada Manusia."

Angin menghimpun kekuatan dan meniupkan dirinya kuat-kuat. Namun tak cukup menggoyahkan Manusia dengan segala pertahanan rumah-rumah. Air yang mengetahui itu, segera membantu. Rintik deras merenda Angin.

Angin memutarkan Air. Kencang menjadi bogem raksasa. Meninju-ninju liar. Menyapu habis pertahanan Manusia. Rumah-rumah roboh. Terjungkir. Manusia hanya bisa melongo. Tampak bodoh.

Bumi dan lumpur segera menggabungkan diri. Air dan Angin sengaja dibiarkan memasuki tubuh mereka dalam-dalam. Kekuatan yang biasanya menopang dan mencengkeram di bukit-bukit dan gunung sudah tak ada lagi. Habis di tebang Manusia. Bumi dan Lumpur dengan mudah merobohkan diri. Melongsorkan diri kepada Manusia.

Di satu bagian tubuh Bumi yang lain, Bumi merasa sangat tersakiti ketika bor tajam menancap. Meski cerca dan ramalan tak menguntungkan, Manusia tetap saja memperdalam tancapan bor. Ada harta minyak yang banyak diidamkan semua Manusia. Kekayaan melimpah. Harta benda sebagai imbalan keuntungan.

Bukan minyak, Bumi mengeluarkan lumpur panas berbau bangkai. Merusak segala tatanan yang memang ditata rapi Manusia. Menghancurkan perlahan. Merampas segala kewenangan atas diri Manusia sendiri, bahkan.

"Wahai kau Manusia! Apa kau sudah mengerti keberingasan kami. Kau masih akan meneruskan perlakuan biadabmu kepada kami? Bukan hanya aku, Bumi, yang menuntutmu, tetapi lihatlah sendiri. Air, Angin, Api, Lumpur juga sudah tak tahan lagi merasakan kekurangajaranmu. Semua menuntutmu."

"Kalian menuntut dan merealisaikan bencana. Tapi tetap saja kalian tak bisa menjamahku. Kalian salah sasaran. Bukankah semestinya kalian yang seharusnya sadar. Orang-orang baik dan alim, kalian timpahi bencana. Terbunuh dengan mengenaskan. Sementara kami orang-orang yang telah merusak dan membuat sakit hati, yang seharusnya kalian timpahi bencana, masih saja selamat.”

"Kau. Ha...ha...!" ngakak bumi tertawa, “kau tidak tahu dan tak paham skenario yang sedang kami jalankan dari Tuhan. Orang-orang alim dan baik ini kami timpahi bencana lebih dulu sehingga bertemu lebih cepat kepada Tuhan. Tentu kebaikan yang dilakukan di dunia akan membawa mereka pada nikmat di alam selanjutnya. Setelah orang-orang alim habis, tinggallah kalian pembuat onar. Akan kami beri bencana tanpa halangan dan doa dari mereka, orang-orang alim. Kami leluasa memberi bencana. Mengacak-acak kalian sampai lumat. Menggulung kalian dalam kebingungan bencana. Penderitaan yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Setelah itu, Tuhan akan memerintahkan malaikat meniupkan terompetnya. Mengakhiri dunia. Tentu kami tak bisa menolak dan dengan sangat senang bisa mengakhiri tugas kami dengan baik.”

“Kalau begitu!”

“Ya, memang benar. Sebelum semuanya terlambat, umumkanlah pada semua manusia skenario ini. Jika kesadaran manusia lebih dini, tentu Tuhan akan memerintahkan kami untuk berhenti memberi bencana.”

“Tapi, bagaimana mereka bisa mempercayai saya? Lantas bagaimana saya bisa menjadi baik. Saya tidak tahu caranya. Jika kalian terus-terusan mengambil orang-orang baik, darimana saya bisa belajar baik. Siapa yang patut saya contoh.”

“Jadi kau ingin berbuat baik?”

“Sangat ingin. Sepertinya ingin mati lebih cepat. Saya ngeri dan takut menyaksikan bencana yang Tuhan janjikan. Skenario yang membuat orang, jika mendengarnya, pasti akan berhenti dari kelakuan buruk. Kembali menjalankan kebaikan. Menjaga alam dan melestarikan. Bukan mengambil keuntungan dengan jalan merusaknya.”

“Kepada Asih belajarlah kebaikan. Sifat kasihnya patut kau contoh. Dan jika kau kabarkan berita ini kepada manusia-manusia lainnya, tentu ini akan menjadi kebaikan bagimu. Yang mengabarkan kebaikan adalah manusia yang baik. Tentu saja, manusia lainnya akan mempercayaimu jika kau sendiri melakukan kebaikan itu. Dan juga menjadi teladan bagi manusia lainnya.”

“Ha...ha...siapa yang bakal percaya dengan skenario Tuhan. Siapa juga yang mau menjadi orang baik. Aku bukan lagi anak kecil. Setia mendengarkan dongeng pengantar lelap. Biarlah, kalian mampuskan semua orang-orang baik dan alim. Toh itu juga keuntungan bagiku. Tak ada yang akan menghalagiku untuk berbuat sesukaku. Tak ada yang melerai. Hah, aku akan bebas. Benar-benar bebas. Manusia utuh dan bebas.”

“Kau membohongi kami!”

“Siapa juga yang bodoh mendengar dan mempercayai ocehan kalian. Hanya kalian saja yang memang benar-benar bodoh dan dungu. Semua manusia tahu kalau aku adalah pembual dan pembohong kelas kakap. Tak ada satu pun yang tak berhasil aku perdayai. Termasuk kalian.”

Kemarahan yang tak ada tedeng aling-aling lagi. Emosi menguasai. Tangan-tangan perkasa dipersiapkan. Kaki-kaki jenjang bebukitan memperlihatkan ototnya. Bersiap menendang. Nyalang mata makin membinarkan tajam matahari. Bumi memanas. Air memanas. Udara memanas. Mencairkan dan membakar kutub.

"Manusia, kemanapun kau lari, kau takkan lepas dari kami. Akan kami urug kau hidup-hidup. Biar sebagian tubuhmu dimakan cacing. Kami akan mengentaskan tubuh busukmu yang masih hidup. Sehingga kau hanya bisa berputus asa dan kesakitan luar biasa kau rasakan. Tak ada semangat hidup. Yang terbayang adalah kematian. Namun jika kau mati, dimanapun kau dipendam atau dibakar, kami akan menolakmu. Membiarkan tubuhmu membusuk.”

Bumi, Air, Angin, Lumpur makin garang mempercepat proses tugas yang diberikan Tuhan kepada Manusia. Pukulan bertubi-tubi Angin dan Air makin mengacaubalaukan kehidupan. Manusia sudah tak mampu lagi menahan kekuatan mereka. Ada yang dibanting-banting dan hanya tersisa sebagian tubuh hidup penuh luka dan cacat. Longsor dari Lumpur langsung memendam mereka tanpa tanda pemakaman yang berarti. Namun lumpur kembali memuntahkan mereka dengan tubuh tak utuh lagi. Masih hidup. Hanya isak tangis. Berharap tubuh busuknya bisa segera menjemput ajal. Berharap tubuh-tubuh busuk segera bisa diberi wewangian.

Surabaya, 24 April 2007.

MENYIBAK RUH SUKSES MENULIS ANDREA HIRATA

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Jawa Pos tanggal 14 Desember 2007, memuat feature yang inspirasional, yakni tentang perjalanan buku yang menjadi bestseller dari pengarang yang tidak mau disebut sastrawan. Lelaki pengarang ini dalam perjalanan akademiknya luar biasa: (a) lulus di UI dengan predikat cum laude, dan (b) S2 dari dua perguruan tinggi luar negeri yang juga cum laude. Bukan masalah pendidikannya yang luar biasa tetapi nuansa spiritualitas yang mengikat. Lelaki luar biasa ini bernama Andrea Hirata. Dia menulis pada awalnya untuk konsumsi sendiri, untuk menghormati gurunya yang memiliki etos bekerja luar biasa, dan karena itu dia ingin mengabadikan kekagumannya pada sang guru. Hanya setelah lulus UI dan S2-nya, cita-cita menulisnya itu belum kesampaian.

Sampai suatu waktu dia mendengar kabar tentang gurunya itu dari teman sekolahnya di Belitung tentang ikhwal sakitnya sang guru, sontak nyali nadarnya keluar, meluncur deras. Kemudian dia menuliskan draft buku, yang kemudian dijilid sendiri, dan dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Absudrnya, ketika dia udah bekerja di Telkom, dan laptopnya tertinggal di kamar, dia meminta temannya untuk mengambil, di situlah pintu rahasia itu mengebor menjadi sungai uang yang kini direngkuhnya. File karya itu kemudian ditawarkan ke Bentang oleh temannya, dan selang beberapa waktu lelaki itu dapat telepon dari Gangsar Sukrisno tentang ikhwal layaknya novel dari tangannya itu untuk diterbitkan.

Lelaki itu bernama Andrea Hirata. Yang kini tetralogi novelnya, untuk yang keempat tinggal menunggu penerbitannya yang direncanakan pada 2008 ini. Ketiga novelnya yang berjudul Laskar Pelangi, Pemimpi, dan ... ; ternyata kemudian menjadi bestseller, yang secara kalkulatif menjadi 500 ribu eksemplar. Pada 2007 ini, karya-karya itu juga diminta penerbit Malasyia, dan yang akan menyusul adalah Singapura. Apa yang menarik dari pengalaman Andrea Hirata untuk kita layari?

Pertama, dalam menulis memang ada lorong rahasia yang nyaris tidak dapat diprediksikan oleh siapa pun. Sebuah buku yang tidak direncakan untuk diterbitkan, akhirnya tercium secara tidak langsung, dan melalui cara yang tidak langsung pula. Tetapi, ketika Tangan Panjang Tuhan menjulur dalam bentang tempat dan ruang yang tak terbatas oleh waktu, apa pun dalam sejarah hidup dapat tercipta. Apalagi, manakala suci hati yang mengalir dalam kepenulisan menjadi ruh di dalamnya, bukan ajaib ketika Tuhannya menemukannya dalam angguk yang mengagumkan.

Kedua, bekal berpikir dan kemampuan akademik tampaknya berandil juga dalam kesuksesan seseorang dalam menulis. Perjalanan akademik Andreas Haretta, siapa pun akan mengakui. Lulus cum laude sejak S1 dan S2 adalah bekal akademik yang luar biasa. Pengalaman ini, diakui atau tidak, meneguhkan apa pesan Budi Darma yang mengatakan bahwa kemampuan menulis erat kaitannya dengan kemampuan akademik (berpikir) seseorang. Kegagalan berpikir dengan sendirinya, akan menghambat kelancaran ”berkomunikasi” dalam karya untuk sampai pada pembaca dan tentunya berkaitan pula dengan kejeniusan tampilan dalam karya.

Permasalahannya adalah mengapa banyak orang pandai di Indonesia yang tidak mampu menulis? Sebuah otokritik yang menarik untuk dipikir ulang. Barangkali, memang kita percaya pada ungkapan banyak tokoh dunia, bahwa profesi apa pun sesungguhnya keberhasilannya ditentukan oleh faktor etos dan motivasi kerja yang dapat menjadi 99 persen. Einstein mengatakan, 99 persen hasil yang kita peroleh karena kerja keras, bukan takdir, apalagi bakat yang secara mitologis selalu menjadi hutan sembunyi atas kemalasan kita. Jika Anda ingin mewujudkan mimpi besar dalam hidup ini tidak ada cara lain kecua kerja keras.

Ketiga, kekuatan impresi seseorang suatu waktu dapat menjadi bom investasi yang tidak ternilai. Sebagaimana saya pernah menulis tentang ”Menulis dan Guru” yang di dalamnya menginspiraskan akan pentingnya etika dalam kepenulisan, maka sisi lain pengalaman kreatif Andrea Hirata ini mengingatkan demikian kudusnya posisi guru dalam perjalanan umat manuisa. Ketulusan ibu guru, menginspirasikan sang murid untuk memberikan kado dan kenangan indah padanya. Di luar dugaan kenangan itu menjadi muara dan sungai finansial yang tidak akan kering sepanjang hayat. Bukankah sebuah buku yang telah tertulis, bestseller, akan menunggu panen raya sepanjang massa?

Keempat, kerendahan hati menjadi segara karya yang memesona. Setiap karya akan mengabadikan nama. Andreas Haretta telah menorehkan dengan tinta emas dalam sejarah hidupnya. Meskipun begitu, dia selalu menolak dikukuhkan sebagai sastrawan dan penulis. Alasannya, dia tidak pernah membaca karya sastra, termasuk buku-buku yang lain dia tidak begitu banyak menyukainya. Apa yang dapat kita petik? Di sinilah, barangkali kita akan setuju bahwa apa yang terjadi padanya adalah sebuah misteri besar Tuhan, semacam Takdir dengan t besar. Sebab, sebagaimana galibnya (dan ini banyak disarankan oleh para penulis), orang yang ingin sukses menulis mutlak harus suka baca. Akan tetapi apa yang dialami Andrea, sungguh membelalakkan mata kita. Sebuah lorong rahasia kehidupan kepenulisan yang akan semakin menggerakkan siapa pun kita yang bersemangat menulis.

Kritik mengapa kemudian buku yang ditulis tidak melalui proses membaca menjadi bestseller? Kemungkinan berikut menarik untuk dipikirkan: (a) kemungkinan ”pembaca kita” bodoh, (b) kemungkinan pembaca kita lagi memasuki kala transisi di pintu dunia baca, (c) kemungkinan kemampuan ajaib yang alir pada diri penulis karena sesungguhnya berbicara juga menulis itu sendiri, dan (d) kemungkinan kerendahan hati penulis yang menyembunyikan kebiasaan membaca itu sendiri. Kebiasaan membaca suatu bidang jika dibingkai dengan kecakapan berpikir secara tepat akan memberikan imbalan yang sama atas bidang-bidang lainnya.

Kelima, profesi apa pun bukan hambatan seseorang untuk menjadi penulis yang berhasil. Latar belakang ekonomi dan lingkup kerja di PT Telkom, bukan hambatan pengembangan kepenulisannya. Ini tentu mengingatkan kita tentang sebuah buku yang ditulis oleh teman TKW dari Banyuwangi, Anda Luar Biasa! (2007). Perempuan TKW yang penulis itu bernama Eni Kusuma. Dalam kata pengantar bukunya dia mengungkapkan begini, ”... Jika saya tidak suka belajar, tidak peduli akan talenta diri, tidak menyukai harapan, cita-cita dan semangat, mungkin Anda tidak menemukan saya dalam buku ini.” (hal. xviii). Ungkapan ini, mengingatkan betapa pentingnya etos, cita, dan kesadaran akan talenta dalam kepenulisan.

Jika Eni adalah seorang TKW –yang hanya alumni SMA—mampu berhasil, menulis sebuah buku motivasi pertama yang ditulis oleh TKW, dan dikomentari oleh para ahli motivasi kelas wahid di tanah air; tentunya hal ini merupakan pemantik yang menarik untuk dikaji. Dalam merentas dunia kepenulisan, selanjutnya dia mengungkapkannya begini: ”Katakanlah, jika situs Pembelajar.com adalah kurikulum saya, maka milis adalah tempat praktik saya, dan artikel-artikel saya yang dimuat di situs itu adalah hasil ulangan saya. Boleh dibilang naskah buku ini adalah skripsi saya setelah kuliah di Pembelajar.com selama lebih kurang enam bulan..”.

Apa yang menggetarkan? Sebuah pengakuan yang layak disimak, --dan lebih dari itu—kita penting belajar darinya adalah (a) bergaul dengan alat global, (b) belajar tidak harus formal, dan (c) kesuksesan dalam kepenulisan yang tidak ditandai oleh kepakaran. Sebuah lonjakan kreasi yang –rasanya— sulit dipercaya seorang TKW aktif dalam sebuah situs (selanjutnya memiliki milis) sebagai tempat ”berguru” kesuksesan. Di sinilah, maka jika Anda ingin memasuki dunia kepenulisan di era global, --demi kelancaran—alat global ini penting untuk digauli.

Andrea Hirata dan Eni Kusuma adalah tamparan dunia akademik –khususnya perguruan tinggi— yang selama ini menasbihkan sebagai jantung perubahan, agen keilmuan, dan nafas gerak kehidupan. Dua contoh yang senantiasa akan menjadi air jernih yang memantulkan kritik pedas! Di manakah kita akan meletakkan semangat ke depan? Jika banyak negara telah merangkak dan memantikkan karya, sementara kita masih sering hanya terpesona oleh kejadian di sekitar kita? Mengapa tidak memiliki daya getar seperti tsunami? Andai kehadiran kedua penulis kita analogkan tsunami inspirasi, maka kematian atas kesombongan pribadi selayaknya dikebumikan dalam-dalam.

Mudah-mudahan kearifan negara dalam menggembalakan tunas bangsa dalam berkarya akan semakin peka. Jika tunas-tunas demikian tidak dikawal terlebih tidak disemaikan, harapan perubahan kultur berkehidupan makro tentunya juga sulit dicipta. Bagaimanapun membaca dan menulis adalah penanda penting dalam perjalanan sebuah bangsa. Mengapa kita tidak melangkah dari tangga kehidupan yang menggerakkan ini?
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Minggu, 21 Desember 2008

Kembang Api

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Begitu jam menunjuk ke waktu 00, langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Dan itu berlangsung lama.

Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan, mungkin akan jauh lebih berguna. Namun Kleng, seorang penduduk di wilayah Ciputat, mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta.

“Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini,”kata Kleng berkoar di jalanan, “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga.. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Masyarakat marah melihat para pemimpin, wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan, daripada membela kebutuhan rakyat!”

Esok harinya, Kleng dipanggil ke pos polisi.

“Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!”
“Betul. Tapi itu bukan teriakan-teriak, Pak.”

“Jadi apa?”
“Itu suara hati!”
“Suara hati?”

“Bahasa populernya protes.”

Petugas mencatat.

“Memprotes apa?”

“Perlakuan kepada rakyat!”
“Perlakuan yang mana?”

“Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!”

“Pemimpin yang mana?”
“Semua.”
“Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?”

“Betul.”
“Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?”
“Tidak bisa!”
“Kenapa?”

“Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!”
“Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?”
“Ya!”
“Kenapa?”

“Karena itu bagian tugas pemimpin. Kalau ada kesalahan, bukan rakyat yang salah, tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau, siapa suruh jadi pemimpin?!”

Petugas mencatat.

“Ada yang perlu saya jawab lagi?”

Petugas berpikir. Kemudian dia berbicara dengan temannya.

“Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?”
“Tidak. Sudah cukup.”
“Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?”

Petugas itu menoleh kepada rekannya. Kemudian dia menggeleng.

“Tidak, sudah cukup.”

“Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab, rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir, kemacatatn jalan raya setiap hari, kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat, kejahatan birokrasi yang semakin licin, korupsi, keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “

“Itu kami sudah tahu.”
“O ya?”

Petugas itu mengangguk.

“Ya. Kecuali kalau ada yang lain.”.

Kleng bingung. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang..

“Lho saya boleh pulang?”
“Ya.”
“Berarti saya bebas?”
“Memang.”
“Saya tidak ditangkap?”
“Kenapa msti ditangkap?”
“Kan saya sudah protes!”
“Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!”
“Betul. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!”

“Tidak. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat, agar kalau ada pertanyaan, kami bisa menjelaskannya. Sekarang karena sudah jelas, Saudara boleh pulang.”

Kleng tak bergerak. Ia nampak bengong.

“Silakan.”

Kleng menggeleng.

“Saudara boleh pulang.”
“Ya saya tahu. Tapi saya tidak mau.”
“Tidak mau? Kenapa?”

“Karena semua orang tahu, saya dipanggil, pasti akan ditangkap dan dijebloskan. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas.”

Petugas mau mencatat, tapi Kleng cepat-cepat mencegah.

“Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya, ampas kebencian dari masa lalu!”

CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu.

Para epigon yang tersihir oleh narasi yang puitik, penuh aroma bunga dengan latar cerita yang bermain di sebuah tempat yang begitu abstrak yang berada entah di mana nun jauh di sana, terus saja menjalankan mesin produksinya. Mereka memang produktif, tetapi sekadar menghasilkan tumpukan karya yang penuh busa dan gelembung kata-kata. Substansi cerita diselimuti oleh balon raksasa yang bernama narasi puitik; sedap dan membuai, meski tidak persis sama dengan tukang obat di pasar tradisional.

Sementara itu bermunculan pula cerpenis yang coba mengusung semangat untuk tidak ikut-ikutan mendewakan kisahan yang membuai namun tak punya pijakan kultural. Di belahan bumi yang lain, di wilayah Nusantara ini, sejumlah cerpenis coba bermain dalam dunia persekitarannya. Maka cerpen-cerpennya laksana merepresentasikan potret masyarakat tempat sastrawan yang bersangkutan itu dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkaran kehidupan sosial-budayanya.

Mereka punya rumah etnik dengan pekarangannya yang kaya problem sosiologis. Mereka punya ibu budaya yang melahirkan dan mengasuhnya hingga dewasa. Mereka tak hendak berkhianat pada ibu budayanya. Tak ingin jadi epigon mengusung dunia yang tidak dikenalnya, meski narasinya membuai. Mereka tak hendak pamer metafora jika yang dikisahkannya tak punya pijakan kultural. Dalam konteks itu, cerpen-cerpen mereka itu tidak hanya mewartakan persoalan kehidupan sosial-budaya dengan berbagai etnisitasnya, tetapi juga sekaligus melengkapi peta sastra Indonesia yang selama ini diperlakukan seolah-olah hanya milik kaum elitis.

Lihat saja karya-karya Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Abel Tasman, Marhalim Zaini, Olyrinson –sekadar menyebut beberapa—yang di belakangnya, ada sejarah masa lalu Kerajaan Melayu, di sekelilingnya ada problem masyarakat puaknya yang termarjinalkan, di depannya ada hasrat untuk membebaskan diri dari kepungan pesismisme. Lihat juga cerpen-cerpen Jamal T Suryanata yang mengungkap kegagalan ketika tarikan tradisi (Banjar) begitu kuat dan harapan untuk lepas dari keterkungkungan itu, tak mendapat respon dari keluarga dan masyarakatnya. Lain lagi dengan Oka Rusmini, Cok Sawitri atau Wayan Sunarta. Kultur Bali dengan Hinduismenya digunakan sebagai sumber inspirasi. Bali dengan segala dinamika sosio-budayanya menjadi sumber ilham; titik berangkat untuk coba menilai kembali hakikat mempertahankan tradisi dan ketidakmampuan menghindar perkembangan zaman dan perubahan sosial. Hal yang jauh sebelumnya dieksplorasi Korrie Layun Rampan atas kultur dan masyarakat Dayak sebagai ibu budayanya, atau Darman Munir atas kultur ninik-mamaknya.

Di ujung Sumatera, kita juga masih dapat berjumpa dengan Azhari, Fikar W Eda, D. Kemalawati, Silaiman Tripa, Nasir Ag dan sederet panjang sastrawan Aceh. Mereka –lewat karya-karyanya—coba menerjemahkan masa lalu keagungan Kesultanan Aceh, kekayaan kultur etnik, sejarah hitam peristiwa DOM (Daerah Operasi Militer) yang penuh bersimbah darah, dan bencana mahadahsyat Tsunami. Jadilah karya mereka sarat nostalgia, kekayaan budayanya, kegetiran atas tragedi kemanusiaan, dan kegelisahan yang bersimbah harapan. Keseluruhannya lalu termanifestasikan dalam karya yang khas mengungkap manusia Aceh yang multidimensi.

Kultur Jawa juga tak pernah sepi melahirkan sastrawannya yang tak berkhianat pada ibu budayanya. Umar Kayam, Linus Suryadi, Kuntowijoyo, Arwendo Atomowiloto, Suminto A Sayuti, Danarto, bahkan juga Darmanto Jatman, dan sederet panjang nama lain, adalah sebagian sastrawan Indonesia yang punya kesadaran kultural atas ibu budaya mereka. Beberapa cerpenis setelah generasi Ahmad Tohari dan Gus Mus dapat pula disebutkan, antara lain, Yanusa Nugroho dan Triyanto Triwikromo. Ahmad Tohari coba mengangkat wong cilik Jawa pinggiran, Gus Mus memotret kehidupan dunia pesantren lengkap dengan kisah-kisah para aulianya, Yanusa Nugroho coba merevitalisasi kembali tafsir dunia pewayangan, dan Trianto Triwikromo cukup piawai mengungkap mitos dan mitologi Jawa. Semuanya jadi begitu khas, eksotik, dan mempesona.

Begitulah, ketika sastrawan coba menawarkan latar ibu budayanya, kondisi masyarakat yang melingkarinya, dan dunia persekitarannya, maka ia menjelma menjadi potret yang penuh dengan aroma eksotisme. Untuk karya-karya yang seperti itu, usaha melakukan generalisasi hanya akan sampai pada kesia-siaan. Kekhasan itu hanya milik pengarangnya. Dengan begitu, karya-karya itu juga selalu akan menjanjikan greget dan rasa penasaran pembacanya.
***

Antologi Topeng karya Sawali Tuhusetya tidak terelakkan mesti dimasukkan ke dalam kotak eksotisme itu. Meski begitu, kekuatan yang bersumber pada kekhasan selalu akan membawa kegagalan ketika kita coba membuat generalisasi. Jadi, sastra yang pada dasarnya khas itu menjadi lebih khas, karena di sana ada unikum, ada eksotisme manakala kita menelisik lebih jauh segala ceruknya. Dalam konteks itu, Sawali Tuhusetya berhasil mengeksploitasi sisi lain dari kultur Jawa dengan segala mitos, mitologi, sistem kepercayaan, dan dunia pewayangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang Jawa. Antologi yang berisi 19 cerpen ini laksana serangkaian potret orang Jawa yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi yang kukuh mencengkramnya. Maka, rasionalitas dan irasionalitas bisa menjadi peristiwa yang aneh mencekam—mengerikan, tetapi sekaligus juga menarik, bersahaja, dan kadangkala juga menciptakan kelucuan.

Pilihan Sawali Thusetya atas tema-tema yang diangkatnya seperti merepresentasikan sikap ambivalensinya atas tradisi dengan segala ketahayulannya, penolakan atas sisi gelap berbagai hal yang berbau klenik, dan sekaligus ketidakmampuannya untuk mengubur ingatan kolektif itu. Jadi, di situlah permainan Sawali. Ia dibetot masa lalu tradisi budaya yang telah melahirkan dan membesarkannya, dan ia ingin melepaskan diri dari segala betotan itu. Tetapi, adanya kesadaran akan ketidakmampuannya melepaskan betotan itu, pada akhirnya, memaksa segalanya harus diterima dan dijalani begitu saja. Mengalir dan mengikuti ke mana arus itu akan membawanya ke muara. Maka, yang terjadi kemudian adalah coba merevitalisasi, menafsir ulang, memberi pemaknaan baru, melakukan aktualisasi, atau menerjemahkannya dalam bentuk transformasi. Jadilah kemudian sejumlah cerpen dengan aura eksotisme.

Sekadar contoh kasus, sebutlah misalnya, cerpen “Topeng”, “Dhawangan”, atau “Jagal Abilawa”. Dalam cerpen-cerpen itu, Tuhusetya menangkap sisi lain dari tradisi kesenian Jawa. Ia mengemas dan menempatkannya dalam konteks kekinian. Kisahannya jadi tampak realis. Tetapi manakala kisahan itu memasuki inti masalahnya, kisah-kisah surealis tiba-tiba saja seperti harus dihadirkan. Dan selepas itu, muncul kesadaran bahwa di sana ada sesuatu yang negatif, sesuatu yang seyogianya ditinggalkan, dan tetap menjadi kisah masa lalu. Jadilah rasionalitas yang kemudian menjadi irasionalitas itu, harus dikembalikan pada rasionalitas masyarakat masa kini.

Dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini, peristiwa dalam cerpen “Topeng”, “Dhawangan” atau “Jagal Abilawa” itu laksana mewartakan potret yang sesungguhnya tentang perilaku masyarakat yang kerap mencari pembenaran –legitimasi rasional—dengan menghadirkan sesuatu yang irasional. Pembangunan fisik, seperti jembatan, waduk, atau gedung-gedung bertingkat, mesti didahului dengan penanaman kepala kerbau atau upacara ritual yang bersumber dari berbagai mitos. Sejumlah menteri atau pejabat yang memelihara guru-guru spiritual, atau para selebritas yang dalam setiap tahun baru meminta para peramal meneropong karier mereka. Begitulah, batas rasionalitas dan irasionalitas menjadi begitu tipis. Dalam hal ini, mitos yang sebenarnya irasional itu, justru berfungsi sebagai sarana legitimasi, mengukuhkan optimisme, sebagai jaminan keamanan dalam menjalani kehidupan di masa depan.

Sawali Tuhusetya memang tidak bercerita secara eksplisit mengenai mitos-mitos itu. Ia hanya bercerita tentang sisi lain dari tradisi kesenian di Jawa. Tetapi makna cerpen-cerpennya sesungguhnya coba melakukan gugatan, memberi penyadaran, bahwa dalam beberapa hal, mitos sering kali malah menjebak, menjerat, dan orang yang percaya itu, akan terperosok pada kubangan sistem nilai yang kemudian berkembangbiak menurut pikirannya sendiri.
***

Secara tematis dengan pemanfaatan latar yang bermain dalam ruang lokalitas, Sawali Tuhusetya telah memilih wilayah yang aman. Ia bakal menonjol sendiri di antara bertebarannya cerpenis yang muncul belakangan ini. Meski begitu, titik tekan kepentingannya bukanlah di sana. Ada kekuatan lain yang tidak dimiliki cerpenis lain yang kecenderungannya sekadar mengandalkan kekuasaan bahasa, yaitu aura eksotisme yang hanya milik mereka yang akrab dengan dunianya. Kesenian Jawa dengan segala sistem kepercayaan, tata nilai, dan kisah-kisah supernaturalnya –dalam cerpen-cerpen yang terhimpun dalam antologi ini—tentu saja berada dalam wilayah kekuasaan Sawali. Maka, ia menjadi khas, unik. Tetapi ketika ia dikaitkan dengan persoalan masyarakat (Indonesia) yang dalam kenyataannya tetap berada di tengah garis demarkasi antara tradisi dan modernitas, cerpen-cerpen Sawali Tuhusetya laksana menyodorkan kritik sosial yang tajam.

Dalam semangat multikulturalisme ketika kita bersepakat mengangkat keindonesiaan dalam keberagamannya, dalam keberbedaannya sebagai kekayaan kultural, maka langkah yang dilakukan Sawali Tuhusetya sangat mungkin memberi kontribusi penting. Penting, tidak hanya bagi pemerkayaan tema khazanah sastra Indonesia, tetapi juga penting sebagai pintu masuk memahami kultur keindonesiaan. Dalam konteks itu pula, pembelajaran sastra di semua peringkat sekolah, mestinya dilakukan dengan semangat multikultural. Dan karya sastra dapat dimanfaatkan sebagai halaman depan memasuki rumah kebudayaan Indonesia. Sawali Tuhusetya dalam antologi cerpennya ini telah menyajikan sisi lain dari sebuah halaman rumah kebudayaan Indonesia dalam sajian yang menarik dan eksotik.
Sungguh, saya bahagia membaca antologi cerpen ini!

Bojonggede, 26 Januari 2008

Sabtu, 20 Desember 2008

Ubud Writers & Readers Festival

Pendaftaran Diri dan Nominasi Peserta Ubud Writers & Readers Festival

Pecinta sastra Indonesia

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang merupakan festival sastra Internasional mengundang nominasi dan pendaftaran diri penulis Indonesia untuk pemilihan peserta periode ke enam yang akan terselenggara pada 7- 11 Oktober 2009. Akan dipilih 10 penulis dari seluruh pelosok Indonesia.

Para penulis yang mendaftar akan dipilih oleh Dewan Kurator dengan kriteria penilaian yang meliputi: kualitas karya, dedikasi pada pengembangan kesusatraan Indonesia, prestasi dan konsistensi dalam berkarya.

Seleksi ini bukanlah ajang kompetisi maupun penghargaan sastra sebab tujuan utama proses seleksi ini adalah menyusun program festival bertaraf internasional yang membuka wawasan dunia akan keanekaragaman khazanah sastra Indonesia.

Peserta yang terpilih akan diundang mengikuti festival ini dan berkesempatan bertemu dan bertukar pikiran dengan para penulis mancanegara dalam rangkaian kegiatan festival yang berlangsung selama 5 hari. Kegiatan festival meliputi: disksusi panel, pembacaan karya, bincang-bincang penulis, dan lokakarya.

Bila Anda adalah penulis Indonesia, atau mengenal penulis yang Anda anggap layak, layangkan pendaftaran sesuai syarat dan ketentuan di bawah ini:

* Penulis warga negara Indonesia
* Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa, maupun karya non- fiksi baik yang sudah diterbitkan maupun belum.

Kirimkan:

* Biodata dalam bahasa Indonesia
* Karya - karya terbaik
* Tuliskan juga topik yang menarik untuk dibahas dalam festival.

Kirim ke sekretariat panitia UWRF paling lambat tanggal 5 Februari 2009 (cap pos)
Di tujukan kepada :

Kadek Purnami
Ubud Writers & Readers Festival
Jl. Raya Sanggingan Ubud - Indus Restaurant.
PO Box 181, Ubud Bali 80571.

Bagi penulis dari luar Bali yang terpilih, Panitia akan menangung biaya transportasi (penerbangan) dan akomodasi selama berlangsungnya acara.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi
Kadek Purnami:
Telp / Fax : 0361-977408
Email : Info@ubudwritersfestival.com / kadek.purnami@ubudwritersfestival.com
www.ubudwritersfestival.com
Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat. Semua berkas pengajuan beserta buku yang telah dikirimkan, akan menjadi hak panitia.

Salam Sastra,
ttd
Panitia


Informasi Tambahan : Ubud Writers & Readers Festival

UWRF merupakan salah satu aktivitas dari program Yayasan Mudra Swari Saraswati. Festival ini sudah berlangsung selama empat kali. Beberapa penulis Indonesia yang sudah pernah mewakili Indonesia diantaranya:

Tahun 2004
Goenawan Moehamad, Dewi Anggraeni, Toeti Heraty, Dorothea Rosa Herliany, Murti Bunanta, Putu Oka Sukanta, Richard Oh, Mas Ruscitadewi, Bodrex Arsana, Putu Suasta, Warih Wisatsana, A.A Made Djelantik, Wayan Arthawa dan Tan Lioe Ie.

Tahun 2005
Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Moemar Emka, Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, Azhari, Laire Siwi Mentari, Rachmania Arunita, Rosni Idham, Muhammad Salim, Marianne Katoppo, Maliana, Pranita dewi, dan Kadek Sonia Piscayanti.

Tahun 2006
Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Laksmi Pamuntjak, Linda Christanty, Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, Ari Pahala Hutabarat, Reza Idria, Fozan Santa, Goenawan Muhamad, John F.Waromi, Vira Safitri, Sitok Srengenge, Putu Setia, Nirwan Dewanto, Iswadi Pratama, dan Ida Ayu Oka Suwati Sideman, Sitok Srengenge.

Tahun 2007
Ahmad Tohari, Anand Krishna, Cok Sawitri, Debra H Yatim, Dorothea Rosa Herliany, Ida Wayan Oka Granoka, Hamid Basyaib, Isbedy Stiawan Zs, Isman Hidayat Suryaman, Julia Suryakusuma, I Ketut Sumatra, Marhalim Zaini, I Gusti Ngurah Harta, Ratih Kumala, Ratna Indraswari Ibrahim, Wiratmadinata.

Tahun 2008
Andrea Hirata, Triyanto Triwikromo, Melanie Budianta, Mashuri, M. Faizi, Lily Yulianti Farid, Dino Umahuk, Butet Manurung, Dyah Merta, Reda Gaudiamo, Iyut Fitra, Muhamad Guntur Romli, Dewi Ria Utari.

Sumber, dari email PuJA (pustaka_pujangga@yahoo.com)

Bangkitkan Kesadaran Lewat Cerita Sejarah

Judul buku : De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme
Penulis : Afifah Afra
Penerbit: Afra Publishing, Surakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 336 halaman
Peresensi: Misbahus Surur*

Sejarah bukan hanya untuk di kubur dan dikenang, tapi juga untuk diziarahi. Novel dengan polesan sejarah, akhir-akhir ini memang membludak, bak laron di musim penghujan. Sejarah masa silam itu lantas memenuhi rongga dan nafas kekinian. Hingga menelusup masuk dalam lipatan-lipatan cerita. Sebagai salah satu novel sejarah, De Winst merupakan salah satu karya sastra yang laik diziarahi. Novel setebal 336 halaman ini, permulaan ceritanya dirajut dari kisah perkumpulan pelajar Indonesia di negeri Belanda, Indonesische Vereniging (IV), atau di Hindia lebih familiar dengan sebutan Perhimpunan Indonesia (PI).

Afifah Afra, novelis muda jebolan biologi sebuah kampus negeri di Solo, yang juga merupakan anggota dari forum komunitas penulis FLP yang memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia tersebut, beberapa kali mengeksplor cerita dengan latar sejarah. Di tengah gemerlap pasar sastra Islami yang digeluti komunitasnya, ia kadang setia bertahan dengan sajian cerita-cerita sejarahnya yang kental, menggugah inspirasi. Terlebih, dengan bubuhan gambar di setiap lekuk badan novel ini, membuat pembaca makin termanjakan. Sedikit beda dengan kebanyakan penulis FLP lainnya. Karya ini mengingatkan kita pada sebuah jejak-rekam kesengsaraan inlander oleh sistem tanam paksa yang dinarasikan oleh H. Moekti dalam roman klasik, “Hikajat Siti Mariah”. Roman ini juga mengupas tuntas ihwal kesengsaraan inlander; praktik penindasan masyarakat gula di Jawa Tengah oleh rezim kapitalis Belanda.

Dalam Prelude to Revolution, George D. Larson pernah mengungkap, perkembangan politik bumi putra pada era kolonial di daerah seperti Surakarta (Solo), banyak didominasi kaum pedagang dari pada golongan priyayi. Kemajuan ekonomi itu bertumpu pada sektor perdagangan seperti batik, tekstil dan sejenisnya. Perkumpulan kaum pedagang ini menurut Larson, mula-mula punya andil menandingi hegemoni perdagangan kawasan Hindia oleh etnis China dan golongan Eropa, termasuk Belanda. Namun perkumpulan ini lambat laun tidak sebatas mengurusi soal perdagangan, melainkan (dengan perlahan juga) menjadi ajang bagi tumbuh kembangnya rasa kebangsaan & semangat pergerakan. Perkumpulan semacam ini semisal Sarikat Dagang Islam (SDI) yang dipimpin oleh H. Samanhudi dari daerah laweyan. Fenomena inilah (kalau boleh saya tebak) yang mengilhami Afifah Afra untuk mengangkatnya dalam sebuah novel, yang diyakini penulis, mampu membangunkan jiwa idealisme kita yang saat ini lagi kendur.

Konflik novel ini bermula dari krisis ekonomi yang menyerang dunia awal abad 20, menghantam dunia Timur dan merambat ke wilayah Hindia Belanda. Kita mafhum, bahwa negeri kita yang beratus-ratus tahun menjadi tempat bercokolnya kolonial Belanda, adalah ladang surga bagi suplai tumbuh-kembangnya perekonomian negeri tersebut. Namun semakmur-makmurnya Hindia, tak ketinggalan ikut terkena imbas krisis dunia saat itu. Novel ini menggambarkan kekelaman penduduk pribumi atas arogansi penduduk golongan kelas satu penumpuk modal (Belanda), yang gemar mengeruk kekayaan negeri Hindia yang melimpah. Namun ironis, di tengah kemewahan negeri pecahan surga nan elok, bumi putra sebatas menjadi jongos di negeri sendiri. Mereka menjadi penduduk kelas tiga yang selalu ditindas dan diperbudak oleh syahwat kapitalisme.

Akibat dari krisis tersebut, berpuluh-puluh industri komoditas utama negeri ini banyak yang gulung tikar. Salah satunya adalah indutri gula. Industri yang bahan bakunya disuplai dari perkebunan tebu ini, terancam bangkrut. Harga gula di pasaran terus melorot. Imbasnya, harga sewa tanah dan gaji pekerja buruh, yang mayoritas ditekuni inlander turun pada level yang mencekik. Tragedi ini menjadi pemantik semakin menguatnya gairah revolusi kaum pribumi menuju tata perekonomian yang lebih kondusif. Seperti yang dikoar-koarkan oleh kaum pergerakan, perihal rencana & cita-cita agung memerdekakan negerinya.

Salah seorang priyayi mantan asisten administratur De Winst (nama sebuah perusahaan gula swasta milik Belanda), bangsawan aristokrat keturunan raja mataram, lulusan Leiden University, Rangga Paruhita, ingin melepaskan bangsanya dari belenggu & penindasan antek-antek kolonial. Ia membidani lahirnya sebuah gerakan. Gerakan ini berusaha memonopoli perusahaan-perusahaan swasta yang nota bene dikelola kaum penjajah. Gerakan dalam sektor ekonomi tersebut ia namai gerakan ekonomi kerakyatan. Usaha ini bertumpu pada pengembangan sektor industri tekstil, di mana kapas menjadi komoditas utamanya. Namun tak beberapa lama, sebuah tragedi mencuat. Geger dan eksodus besar-besaran buruh De Winst ke pabrik tekstil yang dikelolanya, menyeret R.M Rangga Paruhita ke muka pengadilan dengan tuduhan memberontak pada pemerintah. Tak ayal, serangkaian fitnah dan konspirasi keji yang dilimpahkan pengadilan, menyeretnya dalam internering ke Endeh.

De Winst begitu memesona. Tak berbeda jauh dari novelnya terdahulu, “Bulan Mati di Javasche Orange”, Afifah Afra menyelipkan kisah asmara tragis tapi menarik. Cerita percintaan ini terajut dari pertemuan Rangga yang studi ekonomi di Leiden sepulangnya dari negeri Belanda dengan Everdine Kareen Spinoza yang sarjana hukum Universitas Rotterdam di geladak kapal menuju Hindia. Kelebihan novel ini adalah ketangkasan penulisnya mempertemukan tradisi lokal keraton Jawa yang kental aroma feodalismenya dengan gaya hidup Eropa yang aristokratik dalam nampan cerita yang memikat. Ia menyembulkan cerita yang mengetengahkan geger kebudayaan antara harus melanggengkan sistem feodalisme Jawa atau mentradisikan sistem demokrasi ala cendekiawan Bumi Putera. Seperti yang telah dijalankan Soekarno, Shahrir, Hatta maupun Cipto Mangunkusomo.

Novel ini ingin menegaskan kembali, bahwa dengan terbenamnya sejarah oleh waktu, apa yang diusung kolonialis, yaitu misi penjajahan itu sendiri, belumlah benar-benar hengkang. Praktik kapitalis dengan wujud imperialisme yang mendera bangsa kita sekitar 3,5 abad itu walau sekarat, tetapi belum benar-benar mati. Zaman sekarang pemilik modallah (baca: investasi asing) yang berkuasa & menguasai sektor-sektor penting di negeri ini. Bahkan, pemerintah dibuat seakan tak berkutik. Praktik kapitalisme itu, kendati pengaruhnya secara umum seringkali laten, namun tetaplah harus diwaspadai. Novel ini menjadi senjata ampuh untuk menyentil kesadaran kita akan bahaya praktik kapitalisme yang kini dengan amat terselubung dan ditunggangi berbagai kepentingan aktif menyemburkan praktik-praktik kapitalisme gaya baru.

*)Penikmat novel, mukim di Malang.

Juanda? Mengapa Bukan Bandara Bung Tomo...

Rohman Budijanto
http://www.jawapos.com/

NAMA bandara di Indonesia hampir selalu menjadi penanda khas daerah. Banyak namanya dipilih dari tokoh-tokoh terkemuka daerah itu. Beberapa contoh bisa disebut. Di Makassar, Bandara Hasanuddin. Di Ambon, Bandara Pattimura. Di Bandung, Husein Sastranegara. Di Bogor, Bandara Atang Sanjaya. Di Batam, Bandara Hang Nadim. Di Banda Aceh, Bandara Sultan Iskandar Muda. Di Lhok Seumawe, Bandara Malikus Saleh. Di Denpasar, Bandara Ngurah Rai. Di Manado, Bandara Sam Ratulangi. Di Banjarmasin, Syamsuddin Noor. Di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Baharuddin. Di Palangkaraya, Bandara Tjilik Riwut. Di Kupang, Bandara El Tari.

Memang, tak semua daerah menamai bandara dengan nama tokoh setempat. Tetapi, tetap mencerminkan kekhasan daerah itu. Padang menamakan pelabuhan udaranya Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Di Mataram bernama Selaparang karena dulu ada Kerajaan Selaparang di Lombok. Ada juga yang nama tempat, seperti Bandara Sentani di Jayapura.

Yang agak aneh adalah nama bandara di Medan, Polonia. Kalau dicari-cari di internet, Polonia adalah nama Latin untuk Polandia. Kabarnya, dulu ada orang Polandia, Baron Michalsky, mendapatkan konsesi penanaman tembakau dari Kolonial Belanda pada 1872. Daerah konsesi tembakau itulah kemudian dia namakan Polonia untuk mengenang negeri kelahirannya. Ternyata, nama bandara di Medan tetap terkait nama tempat bandara dibangun, daerah Polonia.

Kalau bandara daerah menamakan dengan nama-nama tokoh atau ikon khas setempat, makanya pas ketika nama bandara internasional di Jakarta juga ''tokoh nasional'', yakni Soekarno-Hatta. Status bandara itu memang bukan bandara ''daerah'', tapi bandara ''pusat''. Karena itu, bandara tersebut dinamai dengan dua bapak bangsa tersebut. Tapi ingat, sebelum pindah ke Cengkareng, dulu namanya juga tokoh setempat, yakni Halim Perdanakusumah.

Yang agak berbeda adalah bandara di Surabaya, Juanda. Sebenarnya wilayah tempat dibangun bandara itu bukan termasuk Surabaya, tetapi di Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Tapi, sudahlah. Untuk memudahkan, memang lebih ''pantas'' disebut Bandara Juanda di Surabaya. Bukan Bandara Juanda di Sidoarjo. ''Merek'' Sidoarjo memang masih kalah moncer dibandingkan Surabaya. (Kebiasaan ini kerap ditiru pemasang iklan mini untuk jual rumah. Rumah di Sidoarjo minta dipasang di bawah kop Surabaya!)

Bandara Juanda tidak sendirian ''tak mengakui'' wilayah tempat berdirinya. Bandara Ngurah Rai juga begitu. Selalu disebut Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Padahal, tempatnya di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Tapi, bukan itu yang paling menarik di sini. Nama ''Juanda'' itu sendiri ternyata tak terlalu berkaitan dengan Surabaya. Tapi, jasa tokoh kelahiran Tasikmalaya untuk bangsa ini memang tak diragukan. Insinyur Djuanda Kartawidjaja (1911-1963) adalah perdana menteri terakhir (kesebelas) pada era Orde Lama. Karya paling topnya adalah Deklarasi Djuanda, yakni menyatakan perairan antarpulau di Indonesia termasuk kedaulatan RI. Deklarasi itu secara hukum menyatukan wilayah RI karena laut tak lagi dianggap wilayah bebas.

Mengapa nama Djuanda diabadikan sebagai nama bandara di Surabaya? Tentu, bukan karena di Tasikmalaya belum ada bandara. Kabarnya, dia termasuk paling berjasa mewujudkan bandara di Surabaya itu. Seperti diketahui, bandara sipil sekarang ini merupakan pengembangan dari Pangkalan Udara TNI-AL. Boleh jadi karena jasanya di bidang kelautan itu juga menjadi pertimbangan mengabadikan Djuanda sebagai nama bandara di Surabaya.

Karena namanya terlalu nasional itulah, Djuanda sebenarnya ''terlalu besar'' menjadi nama bandara di Surabaya. Apalagi, banyak sekali tokoh asal Surabaya atau Jawa Timur yang tak kalah pantas menjadi penanda bandara ini. Misalnya, Roeslan Abdulgani, dr Soetomo, W.R. Supratman, H.R. Muhammad, Mayjen Sungkono, Doel Arnowo, Gubernur Soeryo, Wali Kota Mustadjab, Cak Durasim, Markeso, Basman, dan, tentu saja, Bung Tomo. Tokoh-tokoh tersebut sudah meninggal sehingga kepahlawanannya tak bisa berubah. Kalau nama tokoh-tokoh itu dijadikan nama bandara, tentunya akan lebih mudah dikenali bahwa itu bandara di Surabaya.

Di antara nama-nama itu, yang paling cocok rasanya Bung Tomo. Bandara Bung Tomo. Sebab, pahlawan 10 November 1945 itu begitu luas dikenal masyarakat. Dia menjadi pahlawan rakyat. Secarik foto, Bung Tomo dengan pakaian pejuang sedang mengacung sambil memekik di bawah peneduh lorek (mirip payung penjual es krim itu), begitu menggugah. Teriakan ''Allahu Akbar!''-nya untuk mengobarkan semangat rakyat Surabaya seakan menjadi ''suara imajiner'' mengiringi foto itu. Rakyat sudah mengagumi Bung Tomo sebagai pahlawan sejak momen itu. Sentimen politik penguasa Orde Lama dan Orde Baru tak melunturkan kepahlawanannya. Keterlambatan 63 tahun untuk mengakui kepahlawanannya tak menyuramkan pamornya.

Bagaimana Djuanda? Tentu jasanya tak bisa kita lupakan. Kalaupun namanya tak jadi nama bandara di Surabaya, dia masih diabadikan untuk nama waduk di Purwakarta (Jawa Barat), universitas di Bogor, taman hutan raya di Bandung Utara, dan, tentu saja, banyak nama jalan di berbagai kota.

Alangkah ''Surabaya''-nya seandainya nama Bandara Juanda diganti dengan Bandara Bung Tomo. Merdeka! (roy@jawapos.co.id)

DESAKU MENEBAR FILSAFAT AYU

Nurel Javissyarqi*

“Fikirkanlah coretan-coretan di dinding Ibukota, adanya istilah MERDESA, sebelum meletusnya balada pemberontakan anak-anak Jatinegara”

Desa itu daerah kendali perekonomian kota. Tata letak spiritualitas pemampu berpeluang menentukan gerak-gerik bangsanya. Sekilas terlihat orang desa berkiblat pandangan kota, padahal orang kota tidak asyik lagi menatap kesehariannya. Dari desa-lah terpelihara keindahan nurani, kemanusiaan agung terpanggil menciptakan atmosfir damai. Dan tranformasi keilmuan merata di setiap sudut-sudut terpencil, ketika orang kota melupakan berkah ilmu, sebab terbius jasadiah.

Sewaktu orang-orang desa mengetahui seluk-beluk kelicikan kota, mereka kembali ke desa, bercerita mengenai kesejatian kembang hayat. Tampaknya orang kota lewat berbagai wacana, namun sewaktu dunia informasi kian terbuka, orang desa berusaha memahami keingintahuan hidup. Lalu lahirlah pandangan hidupnya, dalam menyinauhi jarak perkembangan. Serta lebih punya banyak waktu memetik segala menjadikan ranum, atas lahan renungan lebih berketenangan, tanpa diracuni asap-asap dupa kepentingan pribadi.

Buku-buku keluaran nalar pedesaan mulai merangsek, mengepung mata kota sampai podiumnya. Di mana orang-orang kota tak lagi suntuk membaca situasi peredaran pemikiran -berbangsa, sedangkan orang desa memetiknya tanpa jiwa emosional yang sesat, lalu mengeluarkan pendapatan gemilang, ketika masyarakat baca mengukur kedalaman renungan, sebagai pencerna alam fikiran.

Ini keunggulan tampil ke muka, sewaktu orang desa melewati keterpencilan harum, sayap-sayap berkeindahan, menebarkan nalar kesejahteraan -kemanusiaan. Burung-burung bertengger di dedahan berdaun hijau, merawat angin peradaban; kesahajaan, kedamaian, dari jarak kekacauan, kebencian cemburu yang ditebarkan mata-mata kota.

Pedesaan itu ketentraman tak terusik keremangan licik, tidak spekulatif dalam menata bathin, menyungguhi hayat bersikap teguh demi kemakmuran sesama. Memang hidup tanpa persaingan akan sepi, namun tidak demikian pandangan kekinian, menemukan kesadaran peluang di dalam menyuntuki bangunan berbangsa -bernegara.

Menyaksikan keanggunan kembang desa mengutamakan tegur sapa, berciuman mesra tanpa curiga, saling memberi nilai bertukar kasih, menebar kebahagiaan. Ini menghadirkan jiwa-jiwa persaudaraan, bahu-membahu menambah informasi ketenangan. Sadar memiliki ruang-lah, sehingga orang desa terus mengeliat mengembangkan tubuh alamiahnya.

Saling gencet orang kota, merusak payung paguyupan. Jelas orang desa tak tersentuh efek tersebut, dengan berbalik ke bilik hati masing-masing, sambil terus menebarkan angin tropis nurani. Orang-orang desa menyuguhkan fikiran rahayu, mimik muka jernih, saat melihat beratnya pandangan orang-orang kota dalam lingkup derita hayati.

Namun mereka menyimpulkan faham, bahwa orang desa itu cengeng. Tidakkah tampak kegigihan petani, keteguhan menjalani hidup berperalatan sederhana, memperoleh uang secukupnya tidak kemaruk. Adalah nilai kebaikan bukan banyaknya termiliki, tapi manfaat maha mutu bagi semua.

Jiwa-jiwa berkembang, selepas prosesi panjang menghamili makna atas gerak jaman. Menebarkan pesona keindahan yang berkumandang tanpa periklanan, lewat bathin perasaan bertukar nilai fikir hasrat positif. Saya memahami pengembangan jiwa filsafat rahayu, dipantulkan alam pedesaan.

Pedesaan masih menikmati keindahan bulan, gemerlap gemintang juga tak ketinggalan mengetahui terangnya kota-kota tipu-daya. Apa yang disodorkan di etalase, bahan pengawet, kecantikan absud, yang tak berlanggam kemakmuran hakiki, tidak serupa laguan pesawahan jiwa yang memperkaya bathiniah.

Semenjak dulu, kota ialah pedesaan nurani bagi sang penggali kenangan. Jika sekarang tampak orang dusun tercebur dalam perangkap kelicikan, menjadilah bagian penjilat. Manusia-manusia desa, kukuh menegakkan kaidah keadilah jiwa, sebelum para hakim faham alunan sebenarnya. Desa menancapkan bebulir sahaja bagi anak-anaknya, yang dilahirkan kasih sayang, bukan jalan paksa, apalagi aborsi atas dihantui biaya hidup yang menekan-nekan urat syaraf.

Tentu orang-orang kota menyadari, bahwa nilai-nilai mereka terbangun atas sokongan kaki-kaki lincah penduduk desa, hanya kemunafikanlah membuang muka, atau melihat dengan rasa kesombongan melupakan sejarah kesejatian. Barang-barang mengkilat itu hasil kerja keras pencuri naluri orang desa; yang tak berasa malu memiliki, yang tidak memberi manfaat diri, apalagi orang lain.

Jika ini terlihat datar atau sentimentil, belajarlah dalam jiwa lain, agar yang terbangun tidak melupakan awal perjalanan, kalbu sebelum berangkat bekerja, mempertimbangan sedurung menjalankan putusan. Ini sungguh cantik yang memupus gejolak jiwa, lewat angin kelembutan desa.

*) Pengelana, 4 Juni 2006. 08 Jakarta - Lamongan.

Kamis, 18 Desember 2008

MENULIS DAN ASMA NADIA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: "Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah." Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD.

Sedangkan Asma Nadia yang terlahir 26 Maret 1972 di Jakarta ini memiliki proses kreatif realtif dekat dengan Helvy dan yang menarik untuk disimak. Paling tidak hal itu ditunjukkan oleh kerja kepenulisannya yang begitu produktif, 30 lebih judul buku telah dilahirkannya. Lebih dari itu, tiga buku diantaranya meraih Anugerah Adikarya Ikapi, yakni (a) Kumpulan cerpen Rembulan di Mata Ibu (2002), (b) Dialog Dua Layar (2003), dan (c) novel 1001 Dating (2005). Berikut merupakan refleksi dari ungkap kreatif yang dilaporkan MataBaca (edisi September 2005:22-23).

Apa yang menarik dari proses kreatif Asma Nadia? Sebuah jejak menulis yang menarik untuk dijejaki (a) begitu mendapat ide penulis ini langsung menentukan alur, tokoh, setting, dan endingnya, (b) ketika ide belum matang (belum jelas bentuknya) dia perlu waktu untuk mengendapkan dan mungkin observasi supaya ide menemukan bentuk terbaiknya, (c) menulis itu perlu komitmen sebagaimana profesi yang lain, (d) bakat turunan ayahnya, (e) terbentuk oleh budaya menulis di keluarga, (f) kritik pedas yang terus mengalir dari suaminya, (g) anak dan suami yang mengerti akan kerja kreatifnya, (i) pentingnya alasan yang kuat dalam menulis, dan (j) pentingnya kerja keras.

Kalau karibnya, Helvy Tiana Rosa pernah mengaku bahwa awal kepenulisannya sejak SD, SMP, dan SMA untuk mencari tambahan biaya sekolah, akhirnya termotivasi untuk membagi sesuatu yang abadi dengan orang lain. Agak berbeda dengan seniornya itu, Nadia lebih diuntungkan oleh bakat yang mengalir dari ayahnya. Bakat pun, pesan A.A. Navis jika tidak didukung oleh etos yang tinggi hanya akan menyumbang kesuksesan 20 persen saja. Karena dalam pengalaman Navis, memang profesi menulis 80 persen lebih ditentukan oleh kerja keras. Di sinilah, hal pertama yang menarik dipetik dari Nadia, “Jangan mudah menyerah. Penulis harus ngotot. Ingat, bahwa keberhasilan adalah jumlah kegagalan +1,” ungkapnya. Profesi apa pun memang membutuhkan etos dan keuletan yang tinggi.

Dalam konteks akuan demikian, maka hal kedua yang menarik diambil adalah pesan Nadia yang mengingatkan bahwa prfesi menulis membutuhkan komitmen. Komitmen yang bagaimana? Tentunya, menyeluruh. Tidak heran, jika keluarga Nadia begitu komit dalam mendorongnya. Suami rajin mengritik dan menilai, anak-anaknya memahami akan profesinya, dan bahkan kultur dan aroma menulis kental di keluarganya. Bahkan, Eva Maria Putri Salsabila yang masih duduk di SD, anaknya, juga menekuni dunia kepenulisan.

Hal ini mengingatkan penulis perempuan dari Surabaya yang mirip dengan Nadia. Yati Setiawan yang bersuami seorang penulis Wawan Setiawan dan kedua anak remajanya pun aktif menulis di Nova. Budaya membaca dan menulis sudah mengakar. Meskipun tidak secemerlang Nadia, namun Yati Setiawan juga memiliki komitmen yang tidak jauh berbeda dengannya. Wuih! Jika sukses menulis itu kita impikan, maka pembudayaan baca tulis di keluarga, komitmen, dan motivasi warganya akan menjadi kunci pentingnya. Pelan-pelan, marilah kita ciptakan keluarga kita sebagai keluarga yang komit pada kedua bidang ini.

Pengalaman kreatif Nadia dalam menggauli ide itu menarik disimak. Jika sudah matang, maka tinggal tentukan plot, tokoh, setting, dan ending-nya. Tapi kalau belum, sebagaimana Ayu Utami, HU Mardiluhung, dan penulis lainnya dibutuhkanlah research. Dalam bahasa Nadia, butuh observasi dan pengendapan agar lebih matang. Masalah tuh bagaimana mengendapkannya? Memikir-mikirkan terus, mengaitkan dengan informasi dan memori kita, menggulatkan dengan pengalaman batin dan didukung observasi lapangan maupun pustaka, tentunya. Mengingat membaca dan menulis merupakan pasangan yang paling mengasyikkan maka nyaris keduanya tidak bisa dipisahkan.

Hal keempat yang tidak boleh dilupakan adalah terciptanya tradisi berguru. Pembaca, dalam bahasa kejujuran kreatif (siapa pun itu hakikatnya adalah guru). Asma Nadia, suami dan anak-anaknya adalah guru kepenulisan itu. Alir kritik pedas suaminya, Alamsyah, adalah ruang refleksi setiap waktu. Dan inilah, juga ketika kita mencermati Yati Setiawan (Surabaya) itu telah sukses membentuk kultur guru-murid (dalam artian filosofis ini) di balik kultur positif di keluarganya. Sebuah tradisi yang kita impikan manakala kita (dan Anda) yang merindukan menulis menjadi profesi di keluarga kita. Berat? Ah, tidak sebenarnya, semua bisa bermula dari kebiasaan kecil macam (a) tradisi kado buku pada anggota keluarga, (b) adanya keteladanan baca, (c) adanya sharing pengalaman tulis, (d) adanya saat-saat diskusi rileks dalam memasakkan pengalaman, dan (e) tentunya perlunya ketersediaan sarana pendukung yang membimbing.

Terakhir, pentingnya keteguhan alasan. Bukankah alasan ini bisa menggerakkan apa pun profesi orang? Semacam latar belakang, background yang akan menentukan langkah menulis selanjutnya. Dalam pengalaman proses kreatif banyak penulis dikenal beragam alasan (a) ada yang menulis untuk mencari uang macam Isbedy Setyawan, (b) ada yang menulis untuk mengekspresikan diri macam Dinar Rahayu, (c) ada yang menulis untuk menyalurkan hobi, (d) ada yang menulis karena panggilan mood takdir macam Budi Darma, (e) ada yang menulis untuk mencari popularitas, (f) ada yang menulis untuk memotret dan sampaikan realitas macam Nh. Dini, dan (g) ada yang menulis untuk melakukan protes sosial macam Wiji Thukul. Eh, sekarang “Apa alasan Anda memasuki rumah kepenulisan?” Selamat berenung, apa pun alasan Anda (dan itu bisa ditambah draf alasannya) akan menentukan langkah-jejak karya Anda di masa depan.
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Rabu, 17 Desember 2008

Pemerintah dan Seni

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Setelah masa reformasi, keadaan Indonesia porak-poranda. Ada perdebatan di antara para ahli, bagaimana membangun Indonesia kembali. Satu pihak mengatakan bahwa untuk membangun Indonesia yang baru dan satu, diperlukan stabilitas politik. Pihak lain membantah, mereka mengemukakan bukan stabilitas politik, tetapi stabilitas ekonomi yang mesti didahulukan.

Tak ada kesimpulan atas perdebatan itu. Pembangunan Indonesia pun berjalan seret, bingung dan tetap masih dalam keadaan tersaruk-saruk sampai sekarang. Yang jelas adalah bahwa “budaya” sama sekali tidak diperhitungkan.

Padahal sudah begitu santer tuduhan bahwa salah satu musuh terbesar pembangunan Indonesia adalah korupsi yang sudah seperti “membudaya”. Sementara kemerosotan moral dan sindiran “bangsa tak beradab” muncul dari tetangga. Bagaimana tidak. Maling ayam bisa dibakar, mall diganguskan berikut pengunjungnya, manusia makan manusia seperti dalam film horror.

Kongres Kebudayaan yang bergegas dilakukan pada 2003 dengan maksud untuk memberikan masukan pada pemerintah dalam rangka ikut membangun Indonesia dari aspek moralnya, hanya menjadi peristiwa seremonial. Tujuh belas butir keputusan yang hendak memberikan arahan pada politik dan strategi kebudayaan, hanya berakhir sebagai sebuah dokumen – sebagaimana juga hasil-hasil Kongres Kebudayaan sebelumnya – sampai kemudian saat untuk menyelenggarakan Kongres Kebudayaan berikutnya (disepakati dalam Kongres 2003, 5 tahun sekali) sudah di depan mata lagi.

Seni sebagai bagian dari kebudayaan yang sebenarnya berharap akan mendapat kasih-sayang yang lebih baik berkat butir-butir keputusan Kongres Kebudayaan 2003, terpaksa menikmati nasibnya yang lama, menjadi anak tiri dalam pembangunan. Posisinya tetap sebagai penumpang gelap yang sekali tempo beruntung bisa bernafas kalau ada bola liar pada tutup tahun sisa anggaran. Selebihnya hanya menjadi pengemis yang berjuang sendiri untuk hidup. Beda sekali dengan kegiatan olahraga yang kendati prestasinya tak seberapa (bahkan sepakbola kalah melulu) tetap saja mendapat anggaran yang manis.

Padahal sudah jelas dibuktikan bahwa hidup tak hanya membutuhkan sandang-pangan dan papan. Dalam musibah tsunami di Nanggru, Aceh Darussalam, misalnya, kita lihat, sumbangan berlimpah dari seluruh dunia, tak segera melipur lara. Manusia tidak hanya memerlukan ganti harta-bendanya yang hilang. Yang lebih menyakitkan dan sulit disembuhkan adalah hati hampa oleh luka kehilangan sanak-saudara.. Itu sebabnya kemudian, sesudah membanjiri daerah bencana dengan berbagai sumbangan, maka kesenian pun mulai dikirim. Senilah yang dapat menyeimbangkan kembali rasa yang sudah terbelah oleh kehilangan yang tidak mungkin tergantikan itu.

Di dalam pembangunan kota-kota di Indonesia, banyak contoh bagaimana sial posisi seni. Bila ekonomi berkembang, maka jalanan menjadi macat. Motor berseliweran seperti kecoak. Mobil berbaris panjangnya melebihi panjang jalan. Pembangunan gedung bertingkat di mana-mana kesurupan. Gedung yang sebenarnya masih layak dipakai, dirobohkan. Peninggalan sejarah pun tak urung diratakan dengan tanah, agar bisa memuaskan nafsu manusia untuk membangun proyek.

Sementara tempat-tempat publik, diabaikan. Gedung kesenian sama sekali tidak diupayakan. Indonesia yang lebarnya sama dengan daratan Amerika dan penduduknya masik kelompok besar dunia, sumber daya alamnya pun konon hebat, ternyata hanya punya satu gedung kesenian yang layak. GKJ di wilayah Pasar Baru, Jakarta. Itu pun warisan Belanda yang dulu sempat diacak-acak dijadikan gedung bioskop dan hanya karena keajaiban tidak punah oleh kegarangan membangun.

Begitu banyak hasil-hasil kesenian dan kerajinan Indonesia yang pantas dipajang sebagai pelajaran di museum, tetapi begitu sedikit museum yang ada. Hampir semua museum sepi bagai rumah hantu. Pengunjungnya paling banter peneliti-peneliti asing, turis mancanegara dan murid-murid sekolah yang dipaksa melakukan study tour oleh sekolahnya. Penghargaan terhadap seni, begitu kurang, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat.

Mengeluh tentang kurangnya penghargaan pemerintah dan masyarakat pada seni, sebenarnya sudah tidak penting lagi, sebab nasib kesenian di negeri ini memang begitu. Memang ada Departemen Kebudayaan tetapi digandeng oleh Departemen Pendidikan dan sekarang oleh Departemen Pariwisata. Akibatnya hanya jadi bayang-bayang kelabu. Tak heran kalau di masa pemerintrahan Gus Dur departemen kebudayaan (seperti juga departemen penerangan dan sosial) dibunuh.

Namun pembasmian itu ada baiknya. Daripada ada tetapi tiada, lebih baik sama sekali tak ada, tetapi ada. Artinya: justru dengan tak adanya departemen kebudayaan, kebudayaan dengan sendirinya masuk ke seluruh departemen dengan bebas dan galak. Seluruh departemen dengan tak ragu-ragu akan “membudaya” tanpa perlu merasa mencampuri dapur departemen lain (kebudayaan). Hal itu terjadi karena kehidupan bernegara mustahil lepas dari seni-budaya.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa kendati perhatian pada kebudayaan/kesenian secara formal begitu “brengseknya”, toh pemerintah sejak dulu terus mengirim missi-missi kebudayaan sebagai bagian dari diplomasi publik. Sementara dunia pariwisata yang makin lama semakin menjadi putra mahkota perebut divisa dari kelom pok non migas, dengan lantang sudah mengobarkan semboyan: “pariwisata budaya”. Kepariwisataan yang terang-terang hendak “menjual” budaya - maksudnya “seni tradisi”.

Walhasil, kendati pemerintah dan masyarakat nampak tak peduli pada kesenian, tetapi pada prakteknya seni dimanfaatkan untuk mengenalkan Indonesia ke forum internasional. Khususnya seni tradisi. Dan berhasil. Jadi kendati didudukkan sebagai “obyek”, dana sudah mengucur dan seni tradisi pun hidup sehat dan segar, walau tak membuat perorangan menjadi kaya-raya (seperti dalam seni modern). Maka semua kesenian akan lebih terlindungi secara proyek bila dikatagorikan seni tradisi atau seni wilayah, karena dia akan mudah mendapat santunan dana.

Seni modern pun mulai diam-diam membonceng. Tak jarang dengan “memperalat” pengembangan atau pelestarian seni tradisi ( kolaborasi, inter aksi, kreasi baru) seni modern mencuri santunan. Dan itu dimaklumi. Artinya, secara diam-diam pengembangan seni modern juga didukung oleh pemerintah, asal memakai tameng seni tradisi. Betul, itu akal-akalan, tapi hasilnya konkrit.

Maka kita pun sampai pada kata-kata “puncak-puncak kesenian daerah adalah kesenian nasional”. Dalam pengertian itu, sebenarnya banyak hal yang bisa disimpulkan. Apa sebenarnya yang dinamakan puncak? Ukuran puncaknya apa? Sangat tak jelas. Apa itu berarti yang terbaik, atau termasuk terbaik, atau cukup karena mampu bertahan dengan baik sepanjang masa?

Puncak pohon kelapa (yang sudah berbuah) paling tidak tingginya beberapa meter. Tapi untuk rumput, yang namanya puncak cukup beberapa centimeter saja. Puncak tidak hanya satu, bisa banyak. Apa salahnya untuk menganggap kesenian yang asal mampu bertahan hidup sepanjang zaman, sebagai puncak?

Apakah puncak kesenian Sumatra Barat itu hanya saluang, randai, serampang dua belas saja – untuk menyebutkan beberapa sebagai misal. Atau semua tarian Minang yang bertahan adalah puncak dan karenanya juga adalah tarian nasional alias tarian Indonesia. Dengan kata lain, semua kesenian daerah (baca: tradisi) dalah kesenian nasional alias kesenian Indonesia . Dengan kata tradisi – seperti kita bentangkan di atas – seni adalah aset untuk menjaring devisa dan karenanya akan mendapat jaminan santunan. Inilah kesempatan emas bagi kesenian Indonesia modern kemudian untuk melakukan pencurian yang diam-diam direstui, walau pun pemerintah tak peduli (pura-pura) pada kesenian.

Pada tahun 1991 saya dikejutkan oleh komentar Toshi Tsuchitori (pimpinan musik pementasan Mahabharata Peter Brook). “Kami di Jepang harus belajar dari kalian di Indonesiam bagaimana memeliharan tradisi, ‘”katanya. “Di Jepang tradisi dipelihara dengan begitu kakunya, sehingga anak-anak muda gerah lalu menolak, lalu mengganti kiblat dengan Amerika. Tapi pada kalian di Indonsia, seni tradisi dan seni modern/kontemporetr begitu mesra berjalan bersama.”

Pada 1995 dalam pertemuan Teater di Solo. Katsura-Khan, penari butho anggota Byakhosa, juga memberikan komentar yang senada. Melihat pertunjukan teater berbahasa Jawa yang digelar secara terbuka di Taman Budaya dengan pengunjung membludak, dia berdecak kagum di depan saya. “Ini yang membuat aku iri. Yang begini tidak ada di jepang,”katanya.

Kedua komentar itu benar-benar sudah menjungkir balik cara saya melihat kenyataan “rawan” di Indonesia. Kurang mesranya cinta “pemerintah-penguasa-masyarakat” pada seni (baca budaya) justru telah membuat kesenian di Indonesia menjadi garang dan berdarah. Itulah yang sudah mematangkan Indonesia menghasilkan orang-orang seperti Rendra, Sardono, Sutardji, Arifin, Chairil, Pramudya, Amir Hamzah, Slamet Syukur, Goenawan, Afandi, Huriah Adam, Gusmiati Suid, Ki Narto Sabdo, Oesman Effendi dll.

SURAT DALAM KHAZANAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

(Bagian I)
Sesungguhnya, sudah sejak lama masyarakat Indonesia mengenal tradisi menulis surat. Para raja pada zaman kerajaan dahulu, wali-wali dan para penyebar aga-ma atau sultan-sultan ketika agama Islam menyebar dan berkembang di pelosok Nu-santara, sudah terbiasa melakukan korespondensi, baik dengan saudara atau sahabat-sahabat baiknya, maupun dengan pihak lain yang mungkin belum dikenalnya. Keda-tangan bangsa Eropa ke Nusantara, makin memperluas tradisi korespondensi mereka.

Sultan Aceh, Alauddin Syah tahun 1602, misalnya, pernah berkirim surat kepada Kapten Harry Middleton. Demikian juga Sultan Iskandar Muda tahun 1615 berkirim surat kepada Raja James I. Kemudian Sultan Tidore, Kaicil Nuku tahun 1785 juga melakukan hal yang sama kepada John Grisp yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Bengkulu, sementara Sultan Ternate, Muhammad Yasin XVIII tahun 1802, mengirimkan suratnya kepada pejabat Inggris, Kol. J. Oliver yang mungkin sebagai pengganti Robert Townsend Farquhar.

Beberapa contoh di atas, sekadar menunjukkan bahwa berkirim surat tidaklah sekadar menjalin hubungan pribadi dengan pribadi, melainkan juga menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik. Dalam hal itu, hampir dapat dipastikan, bahwa para sul-tan atau raja di Nusantara ini, pernah melakukan korespondensi dengan orang-orang Eropa atau bangsa asing lainnya yang datang ke wilayah kerajaan atau kesultanan itu.

Tradisi tersebut tidak hanya memperlihatkan, betapa bangsa kita sebenarnya sudah sejak lama mengenal komunikasi tertulis --lewat surat-- tetapi juga menunjukkan tingkat peradaban dan keterpelajaran mereka. Dengan demikian, sekaligus juga sebagai bukti bahwa masyarakat kita, sudah sejak lama terbiasa hidup dalam tradisi baca-tulis.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya dari tradisi berkorespondensi para raja, sul-tan atau penguasa waktu itu, adalah ketelatenannya untuk menyimpan atau dalam istilah sekarang mengarsipkan, surat-surat hasil korespondensi tersebut. Kesadaran bahwa surat merupakan sebuah dokumen penting, baik yang bersifat pribadi, maupun kelembagaan, rupanya sudah menjadi bagian dari tradisi berkorespondensi waktu itu. Jadi, tradisi pengarsipan surat pun, sejak sejak lama dilakukan para leluhur kita. Oleh karena itu, tidak beralasan, bahkan tidak pada tempatnya bagi bangsa asing, terutama Belanda ketika itu, untuk menyebut dan melecehkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbelakang.

Sebagai bukti, peninggalan berharga dari tradisi surat-menyurat ini, sampai se-karang masih terpelihara dan tersimpan dengan baik di keraton-keraton atau di kesul-tanan-kesultanan di tanah air. Usaha pemerintah menyelamatkan, memelihara, dan me-lestarikan peningggalan berharga itu dilakukan dengan menyimpannya di Perpustakaan Nasional atau di Arsip Nasional. Di luar negeri, terutama di Inggris dan Belanda atau di beberapa perpustakaan di Eropa, naskah-naskah lama dari tradisi tulis bangsa kita, juga masih terpelihara dengan baik, meskipun bukan lagi milik bangsa yang melahir-kannya. Naskah-naskah itu diboyong ke Eropa saat bangsa kita dijajah Belanda.

Sebuah buku berjudul Golden Letters (Surat Emas) (London: The British Li-brary; Jakarta: Yayasan Lontar, 1991) yang disusun Annabel Teh Gallop dan Bernard Arps, mengungkapkan betapa raja-raja di Nusantara dahulu, sangat memperhatikan adab dan tata krama berkorespondensi. Mereka menulis surat dengan tulisan yang sangat indah yang mencerminkan martabat dan derajat pengirimnya. Dengan demikian, sekaligus juga menunjukkan keterpelajaran dan tingkat peradaban masyarakatnya.

Para peneliti, terutama sejarawan, banyak yang kemudian memanfaatkan nas-kah-naskah yang berupa surat-menyurat itu untuk fakta historis. Mereka mencoba me-nguak jalinan hubungan sultan-sultan atau para penguasa kita di zaman dahulu dengan orang-orang asing (Eropa, terutama Belanda). Oleh karena itu, surat sebagai alat ko-munikasi tertulis, tidak hanya penting sebagai bukti otentik hubungan seseorang de-ngan orang atau pihak lain, tetapi juga penting sebagai dokumen, catatan tertulis yang suatu saat kelak akan menjadi bukti, atau bahkan dokumen sejarah sebagian perjalanan hidup seseorang.
***

Kenyataan bahwa masyarakat kita di zaman kerajaan atau kesultanan dahulu itu, sudah terbiasa berkirim surat, rupanya --sedikit-banyak-- turut pula mengilhami para sastrawan kita. Terbukti kemudian, baik dalam kesusastraan Indonesia lama, maupun dalam kesusastraan Indonesia modern, gambaran dari kebiasaan masyarakat kita berkirim surat itu muncul pula sebagai bagian intrinsik karya yang bersangkutan. Dengan demikian, pernyataan bahwa sastra sering kali dianggap sebagai cermin masya-rakat dan potret zamannya, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Marilah kita periksa!

Karya Raja Ali Haji yang berjudul Sja’ir Abdoel Moeloek, misalnya, kita ketahui proses penebitannya justru dari korespondensi Raja Ali Haji dengan seorang hakim Belanda bernama Philippus Pieter Roorda van Eijsinga. Dari sanalah kemudian kita tahu bahwa karya itu selesai ditulis tanggal 9 Safar 1262 H atau 3 Februari 1846. Berkat usaha orang Belanda itulah, Sja’ir Abdoel Moeloek diterbitkan pertama kali di Belanda dalam bentuk cetakan tahun 1847 dalam tulisan Arab--Melayu. Pada tahun 1892 karya itu diterbitkan lagi dalam tulisan Latin. Penerbit Balai Pustaka kemudian menerbitkan kembali dalam tulisan Latin pada tahun 1917.

Korespondensi Raja Ali Haji dengan Roorda van Eijsinga itu juga mengung-kapkan betapa akrabnya persahabatan mereka. Sikap saling menghormati, memuji ke-baikan, dan saling mendoakan keselamatan masing-masing, merupakan salah satu bagi-an penting yang disampaikan dalam korespondensi mereka. Selain itu, korespondensi keduanya yang dimuat di halaman depan buku itu, memberi keterangan cukup lengkap mengenai proses terbitnya karya itu; sebuah karya yang juga dianggap mengawali ke-pujanggaan Raja Ali Haji. Dalam hal ini, anggapan beberapa kalangan bahwa Raja Ali Haji kurang bersahabat dengan orang Eropa dibandingkan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, terbukti tidak beralasan. Dengan demikian, anggapan itu jelas keliru.

Dalam Hikajat Hang Toeah, kita juga akan menemukan begitu banyak peristiwa yang menggambarkan tradisi berkorespondensi ini. Ketika Raja Malaka hendak mengutus Laksamana untuk menghadap Seri Sultan Benua Keling, misalnya, Raja memerintahkan Bendahara untuk menulis surat. Dalam beberapa peristiwa lain yang memperlihatkan kebiasaan berkirim surat ini, terungkap pula bahwa adab sopan-santun, etika pergaulan, dan saling menghormati tradisi, budaya, dan kepercayaan yang berlainan, sangat dipentingkan dan menjadi bagian dari peri kehidupan waktu itu. Jadi, sungguh aneh jika generasi sekarang kurang begitu memperhatikan tata pergaulan yang luhur dan mulia itu.
***

Novel-novel Indonesia sebelum perang yang diterbitkan Balai Pustaka, sebagian besar ternyata menyertakan pula bentuk surat sebagai bagian penting dalam peristiwa yang membangun cerita bersangkutan. Dalam Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar, misalnya, hubungan percintaan tokoh utama Aminu’ddin dan Mariamin dikembangkan lewat korespondensi kedua tokoh itu. Lewat surat-menyurat pula, putusnya hubungan percintaan mereka digambarkan sebagai akibat adat kolot yang membelenggu.

Agak berbeda dengan pola surat dalam Azab dan Sengsara, dalam Sitti Nurbaya (1922) Marah Rusli memanfaatkan bentuk surat, tidak hanya untuk meng-ungkapkan hubungan percintaan Sitti Nurbaya dengan Samsulbahri, tetapi juga untuk mengungkapkan kegelisahan Samsul ketika ia hendak bunuh diri. Yang juga berbeda dengan bentuk surat dalam novel sebelumnya, dalam Sitti Nurbaya, surat Samsulbahri kepada Sitti Nurbaya disusun dalam bentuk syair yang menggambarkan cinta Samsulbahri kepada kekasihnya.

Pola jalinan percintaan yang dikembangkan lewat surat, agaknya menjadi sema-cam konvensi dalam novel-novel terbitan Balai Pustaka waktu itu. Bahkan, beberapa novel yang diterbitkan di luar Balai Pustaka pun hampir selalu memanfaatkan surat dalam mengembangkan ceritanya. Terlepas dari soal kecenderungan yang terjadi pada novel-novel Indonesia masa itu, pemanfaatan surat yang dilakukan para pengarang kita untuk mengembangkan ceritanya, menunjukkan bahwa tradisi berkomunikasi lewat surat, bukanlah sesuatu yang baru sama sekali.

Dalam novel karya Abdoel Moeis, Salah Asuhan (1928), Adinegoro, Asmara Jaya (1928), Sutan Takdir Alisjahbana, Dian yang Tak Kunjung Padam (1932) dan Layar Terkembang (1937), Paulus Supit, Kasih Ibu (1932), Fatimah Hasan Delais (Hamidah), Kehilangan Mestika (1935) dan beberapa novel yang terbit sezamannya sampai ke karya Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939), tampak jelas bahwa pemanfaatan surat menjadi bagian penting dalam jalinan ceritanya. Jika dikatakan bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat dan menggambarkan semangat zamannya, maka makna surat dalam novel-novel itu, tidak sekadar sebagai bagian dari cerita, melainkan sebagai potret bahwa tokoh-tokoh di dalam novel itu, termasuk golongan masyarakat terpelajar. Setidak-tidaknya, tokoh-tokoh yang digam-barkan itu sudah terbiasa dengan budaya membaca dan menulis.
***

Dalam Salah Asuhan, surat-menyurat Hanafi dengan Corrie de Busee, Dokter Sukartono (Tono) dengan Sumartini (Tini) dalam Belenggu, atau Maria dengan Jusuf dalam Layar Terkembang, secara jelas mengungkapkan tingkat keterpelajaran tokoh-tokoh itu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh yang mewakili golongan terpelajar pada zamannya. Tetapi bagaimana surat-menyurat Hanafi dengan ibunya atau Yasin, pemuda udik dengan Molek, putri seorang bangsawan dalam Dian yang Tak Kunjung Padam? Apabila Hanafi menyurati ibunya di kampung, maka hal itu mengisyaratkan bahwa ibunya sudah terbiasa dengan budaya baca-tulis. Demikian juga Yasin, meskipun ia digambarkan sebagai pemuda udik dan miskin, kebiasaannya menulis surat mengisyaratkan bahwa ia juga seorang terpelajar, atau setidak-tidaknya pernah mengecap bangku pendidikan di sekolah.



(Bagian II)
Gambaran bahwa surat mengungkapkan keterpelajaran seseorang, terasa begitu kuat jika kita mencermati novel Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Surat-menyurat Zainuddin, Hayati, Khadijah, Aziz, Daeng Masiga, dan beberapa tokoh lainnya, tidak hanya berfungsi mengikat dan sekaligus mengembangkan jalinan cerita, melainkan juga memperkuat latar sosial tokoh-tokohnya. Kiranya jelas bagi kita, bahwa masyarakat Minangkabau pada masa itu, sudah terbiasa berkorespondensi. Caranya mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan lewat surat, tertata begitu rapi yang mencerminkan tingkat keterpelajarannya. Dalam hal ini, surat benar-benar mewakili sosok pribadi seseorang. Di sini pula, surat dapat dijadikan sebagai salah satu alat untuk mengukur terpelajar-tidaknya dan dangkal-dalamnya wawasan seseorang.

Kepiawaian Hamka memanfaatkan surat ini, tampak pula dalam novelnya yang lain, Di Bawah Lindungan Kabah (1938). Begitu pentingnya jalinan cerita yang dibungkus dalam rangkaian surat tokoh-tokohnya (Hamid, Zainab, Rosna), sehingga rangkaian peristiwa dalam novel ini menyerupai cerita berbingkai. Untuk memberi gambaran lebih jelas mengenai teknik bercerita Hamka dalam novel ini, pembicara-annya akan dilakukan tersendiri dalam tulisan mendatang.

Pemanfaatan surat untuk menjalin dan mengembangkan cerita, sebagaimana yang dilakukan Hamka dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck, tampak pula dalam novel Soetomo Djauhar Arifin, Andang Teroena (1941). Dalam beberapa hal, terkesan kuat Soetomo mengambil novel Hamka itu sebagai modelnya. Oleh karena itu, dalam novel ini, kita juga akan menemukan surat-surat yang berisi pemutusan hubungan cinta, perhatian seorang ibu, kerinduan sepasang kekasih, sampai ke surat lamaran.

Meski tidak sekental yang dilakukan Hamka, Soetomo cukup berhasil menempatkan surat lamaran tokoh utamanya, Goenadi, sebagai klimaks cerita. Perhatikan bagian akhir surat itu yang dikutip berikut ini: “Poetoesan itu hanjalah: setoedjoe atau tidak. Atau lebih tegas, memperkenankan atau melarang Hartini, ananda jadikan isteri ananda!” Surat lamaran yang ditulis Goenadi untuk orang tua Hartini, kekasihnya itu, terasa lugas, meski sebelumnya dikemukakan alasan-alasan yang melatarbelakanginya. Dalam novel Hamka, surat lamaran yang ditulis Zainuddin untuk orang tua Hayati, justru menjadi puncak berakhirnya percintaan Zainuddin dengan Hayati. Sebagai perbandingan, perhatikan surat lamaran Zainuddin itu yang dikutip beberapa penggal, berikut ini:

“Engku yang mulia! Saya seorang anak muda yang setia. Jika sekiranya engku sudi menerima saya untuk kemenakan engku, engku akan beroleh kemenakan yang penyantun, yang suka berjuang dalam hidup dengan tiada mengenal bosan dan jemu... Tak usah engku takut Hayati akan kecewa bersuami saya. Percayalah engku bahwa dia akan beroleh seorang suami yang kenal kewajibannya, menempuh kesenangan dan kesusahan dengan hati yang tetap.
Kabulkanlah surat saya, engku. Saya tak pandai mencari jalan yang saya rasa lebih aman dan tidak mengecilkan hati, lain dari mengirim surat ini.”

Demikianlah, jika fungsi surat dalam novel-novel yang telah disebutkan tadi, dimanfaatkan untuk menjalin dan mengembangkan cerita, maka dalam novel Huluba-lang Raja (1934) karya Nur Sutan Iskandar, surat sekaligus juga untuk mengungkap-kan fakta historis. Hulubalang Raja yang mengambil sumber ceritanya berdasarkan disertasi H. Kroeskamp (Utrecht, 1931), memang mengangkat peristiwa sejarah Mi-nangkabau yang terjadi antara tahun 1665--1668. Oleh karena itu, surat yang menjadi bagian dalam cerita ini, bukanlah berupa surat pribadi, melainkan surat-surat perjanjian antara raja setempat dengan pihak Kompeni. Dalam hal itulah, surat dalam novel ini penting sebagai fakta sejarah yang menggambarkan sepak terjang orang-orang Belanda (Kompeni) dalam menjalin hubungan dagang dengan penguasa pribumi.
***

Selepas perang, para pengarang kita masih memanfaatkan surat dalam rangkaian cerita yang hendak dikembangkannya. Mengingat surat ditempatkan sebagai bagian intrinsik novel yang bersangkutan, maka fungsinya bergantung pada maksud pengarang menyertakan surat itu sendiri sebagai bagian dari cerita. Surat yang terdapat dalam novel Surapati (1950) karya Abdoel Moeis, misalnya, tampak sengaja dihadirkan untuk menegaskan sikap tokoh utamanya, Surapati dan tidak mengungkap-kan fakta sejarah, meskipun novel itu berlatar sejarah.

Surat yang ditulis Suzane Moor, istri Surapati, bagian akhirnya tertulis begini:
“Jika engkau telah mendapat ampun, carilah pekerjaan yang berpatutan, tulis surat kepadaku. Alamatku ada pada nyonya Kramer. Bila engkau telah menjadi orang baik-baik, patut beristrikan nyonya Belanda, ada kemungkinan aku kembali ke Batavia. Jika tidak: selamat tinggal. Tapi yang kuharap-harap: sampai bertemu kembali.”

Surat dari Suzane Moor itu sesungguhnya menempatkan Surapati pada sebuah dilema. Jika ia mementingkan istri dan anaknya, maka ia harus mengikuti apa yang dipesankan istrinya, dan itu berarti ia mengkhianati perjuangannya membela tanah air. Sebaliknya, jika ia mementingkan bangsa dan tanah airnya, maka ia harus merelakan kepergian istri dan anaknya ke negeri asalnya, Belanda. Ternyata, Surapati memilih membela bangsa dan tanah airnya. Dengan begitu, ia terus melanjutkan perjuangannya melawan Belanda. Kelak, dalam novel Robert Anak Surapati (1953), Surapati terpaksa berhadapan dengan anaknya sendiri, Robert yang membela bangsa ibunya, Belanda.

Dalam novel-novel yang terbit selepas tahun 1950-an, para pengarang kita sudah jarang menghadirkan surat sebagai bagian penting di dalam membangun cerita. Dalam novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) karya Mochtar Lubis, misalnya, surat Hazil kepada Guru Isa, disajikan dalam bentuk tidak langsung. Fungsinya lebih dimaksudkan untuk mengganggu pikiran dan perasaan Guru Isa. Dengan demikian, kegelisahan tokoh utama itu, terus berkelanjutan.

Tampaknya, jika tidak terlalu penting benar, para pengarang kita selepas mer-deka, tidak merasa perlu menghadirkan surat. Meskipun begitu, dalam sejumlah novel, kita masih menjumpai adanya surat yang kehadirannya lebih diarahkan untuk memper-kuat karakterisasi tokoh, menciptakan atau menambah konflik yang dihadapi tokoh-tokohnya atau menjadikan persoalannya lebih rumit. Pemanfaatan surat benar-benar sesuai dengan tuntutan cerita itu sendiri, dan bukan sekadar tempelan. Dengan begitu, kehadiran surat jadi terasa lebih fungsional dan efektif dalam membangun cerita.

Namun, dalam novel Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968) karya Na-syah Djamin, kehadiran surat justru sangat penting. Ia tidak hanya menjadi bagian cerita, tetapi juga untuk membangun cerita itu sendiri secara keseluruhan. Dalam hal ini, surat-surat dalam novel itu, juga berfungsi sebagai catatan biografis tokoh-tokoh-nya. Dengan demikian, perkembangan cerita, kerumitan masalah, karakterisasi tokoh, latar sosial dan latar material, serta berbagai peristiwa, justru dimungkinkan karena adanya surat-surat itu. Oleh karena itulah, novel ini menyerupai cerita berbingkai. Riwayat Fuyuko dalam rangkaian suratnya yang dibacakan adiknya, Shimada kepada tokoh Talib. Tokoh Talib inilah yang seolah-olah membingkai surat-surat Fuyuko.

Dalam bentuk yang agak berbeda, Ajip Rosidi dalam Anak Tanah Air (1985) secara sengaja menempatkan surat-surat di bagian ketiga novelnya. Dengan tajuk “Surat-Surat Dinihari” yang ditulis tokoh Hasan, surat-surat itu jutsru melengkapi dan sekaligus terkesan melanjutkan perjalanan hidup tokoh Ardi yang terdapat dalam bagian pertama dan kedua novel itu. Yang terasa penting dalam surat-surat itu adalah catatan-catatan historis yang terjadi di seputar peristiwa pemberontakan PKI, 30 September 1965 dan beberapa tahun sesudahnya. Dengan demikian, kehadiran surat-surat itu benar-benar menjadi bagian integral bagi cerita novel itu secara keseluruhan.

Sesungguhnya, masih banyak novel lain, termasuk juga cerpen, drama, dan puisi, yang menyertakan surat sebagai bagian penting dalam jalinan peristiwa yang terdapat dalam karya yang bersangkutan. Sesuai dengan perkembangan zaman, bentuk surat yang dihadirkan para pengarang dalam karyanya, sejak novel-novel awal zaman Balai Pustaka sampai sekarang, tampak semakin problematik dan canggih. Kadangkala menyerupai tempelan yang merekatkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Namun, sering juga berupa informasi penting, baik yang menyangkut fakta sejarah, peristiwa politik, maupun pemikiran filosofis. Dalam hal ini, para pengarang sengaja menghadirkan surat dalam karyanya sebagai usaha mengembangkan ceritanya, dan sekaligus juga untuk menyiasati tema yang hendak disampaikannya.

Sesungguhnya masih banyak novel (atau cerpen) Indonesia yang memanfaatkan bentuk surat sebagai bagian intrinsik dari keseluruhan ceritanya. Novel Trisnoyuwono yang berjudul Surat-Surat Cinta (1968), misalnya, malah cerirtanya itu sendiri dikem-bangkan melalui surat-menyurat para tokohnya. Jadi, surat sebagai bagian cerita dalam khazanah kesusastraan Indonesia, sudah bukan merupakan sesuatu yang asing.

Lebih daripada itu, surat-surat yang terdapat dalam khazanah kesusastraan Indonesia itu, tidak hanya memperlihatkan tradisi berkorespondensi yang sudah sejak lama berkembang, tetapi juga mencerminkan tingkat keterpelajaran tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Semakin meyakinkan dan berkesan surat-surat itu, semakin tampak kepiawaian pengarangnya. Sayang sekali, sejauh ini, belum ada penelitian atau skripsi yang mencoba menelaah bentuk atau makna surat-surat yang terdapat dalam karya sastra (novel atau cerpen).
***

Sebagai usaha melatih para siswa atau mereka yang ingin belajar mengarang, menulis surat, khususnya surat pribadi, sesungguhnya merupakan salah satu cara yang paling mudah dan efektif. Bagaimana kita menyampaikan sebuah pesan pribadi dengan bahasa yang lancar dan enak dibaca dapat dilakukan melalui latihan penulisan surat. Benarlah kata pepatah bahwa: “Surat adalah wakil diri. Dangkal-dalamnya wawasan seseorang, piawai tidaknya seseorang mengungkapkan gagasan, menangkap persoalan, dan menyampaikan pesan dengan lancar, runtut, jelas, dan enak dibaca, tercermin dari surat yang dibuatnya.”

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Pengikut