Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Geliat Penyair Muda Madura

S Yoga
http://www.suarakarya-online.com/

Madura selain terkenal sebagai pulau garam dan tembakau ternyata menyimpan banyak potensi, di antaranya dunia kepenyairan, sastrawan. Ini bisa kita lihat dari beberapa nama yang sudah malang melintang di dunia kepenyairan, sebut saja D Zawami Imron, Abdul Hadi WM, yang lebih muda lagi Jamal D Rahman, Ahmad Nurulah, Syaf Anton WR dan Hidayat Raharja.

Sedang yang masih setia tinggal di kampung halamanya selain D Zamawi Imron, yang terus berbaur dengan msyarakat dan keromantisan desa pesisir, ada Syaf Anton dan Hidayat Raharja. Yang lain meski tinggal di Jakarta tapi masih terikat dengan kampung dan adat, bila sewaktu-waktu ada acara keluarga maka mereka berdatangan ke kampung halamannya, sehingga karya-karya merekapun masih ketara nafas Maduranya, karena ikatan batin itu susah untuk dihilangkan.

Kita lihat karya-karya Abdul Hadi WM dengan nafas kesufiannya, Jamal D Rahman dengan kesunyian dan kesufian yang lebih muram meski dengan nafas baru …

Kisah Kesuksesan Pelajar Tanpa Pengajar

Sungatno*
http://cawanaksara.blogspot.com/

NOVEL teranyar Simon Winchester yang berjudul The Professor and the Madman ini,menghadirkan kisah anak desa dari rakyat Inggris (James Murray) yang meraih kesuksesan dalam mengarungi hidup melalui pendidikan yang dicipta sendiri alias autodidak.

Anggaran pendidikan yang diberikan orangtua kepada James Murray ternyata tidak dapat menyanggupi kelangsungan pendidikan James di lembaga pendidikan formal, yang bernama Grammar School.Dengan terpaksa,James diharuskan berhenti menimba ilmu di Grammar School.

Keadaan seperti itu ternyata tidak menyurutkan semangat James menimba ilmu. Dengan hati pasrah dan menerima kenyataan ekonomi keluarganya, James berusaha tidak menyalahkan orang lain, apalagi mengutuk pemerintah yang tidak memperhatikan pendidikan dirinya. Walaupun tanpa belajar di Grammar School, James memanjakan hasratnya untuk meneguk pengetahuan dengan belajar sendiri atau autodidak.

Melalui buku-buku––yang didapatkannya secara tidak sengaja atau d…

Bumi Asih

A Rodhi Murtadho
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/

Bumi dan Asih terus berkasih. Di tengah jelaga malam maupun di terik siang. Jiwa beraga petang di selimut kerinduan. hayal menggelepar di senyum kecut dahaga hening. Bumi merana dalam sendiri. Terinjak-injak sepi dalam kekalutan. Apa mau dirasa hanya berpulang gelisah.

Wajah bumi melas mengeras. Batas sudah lepas. Kewajaran dari tipu daya. Kering kerontang merana. Segala isi dikeluarkan. Semburat tanpa pesan. Hanya meninggalkan sampah. Restu berpulang ketika petang. Dengan halang, terus saja menyediakan. Bumi merasa kosong. Melayang tak karuan. Rotasi dan revolusi sudah tak pada lintasan. Sering kandas dan melenceng. Kekuatan telah hilang.

Sengat gravitasi menganaktirikan. Burung-burung raksasa bermuatan manusia ditempa. Tak stabil melayang. Ada yang dipatahkan dengan tekanan. Ada yang diceburkan. Tenggelam. Pelampung-pelampung penuh daya kecurangan diguncang. Terbakar atau tenggelam. Hanya peringatan yang hendak disampaikan. Tak diinda…

MENYIBAK RUH SUKSES MENULIS ANDREA HIRATA

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Jawa Pos tanggal 14 Desember 2007, memuat feature yang inspirasional, yakni tentang perjalanan buku yang menjadi bestseller dari pengarang yang tidak mau disebut sastrawan. Lelaki pengarang ini dalam perjalanan akademiknya luar biasa: (a) lulus di UI dengan predikat cum laude, dan (b) S2 dari dua perguruan tinggi luar negeri yang juga cum laude. Bukan masalah pendidikannya yang luar biasa tetapi nuansa spiritualitas yang mengikat. Lelaki luar biasa ini bernama Andrea Hirata. Dia menulis pada awalnya untuk konsumsi sendiri, untuk menghormati gurunya yang memiliki etos bekerja luar biasa, dan karena itu dia ingin mengabadikan kekagumannya pada sang guru. Hanya setelah lulus UI dan S2-nya, cita-cita menulisnya itu belum kesampaian.

Sampai suatu waktu dia mendengar kabar tentang gurunya itu dari teman sekolahnya di Belitung tentang ikhwal sakitnya sang guru, sontak nyali nadarnya keluar, meluncur deras. Kemudian dia menuliskan draft buku, yang k…

Kembang Api

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Begitu jam menunjuk ke waktu 00, langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Dan itu berlangsung lama.

Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan, mungkin akan jauh lebih berguna. Namun Kleng, seorang penduduk di wilayah Ciputat, mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta.

“Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini,”kata Kleng berkoar di jalanan, “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga.. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Masyarakat marah melihat para pemimpin, wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri…

CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu.

Para epigon yang tersihir oleh narasi yang puitik, penuh aroma bunga dengan latar cerita yang bermain di sebuah tempat yang begitu abstrak yang berada entah di mana nun jauh di sana, terus saja menjalankan mesin produksinya. Mereka memang produktif, tetapi sekadar menghasilkan tumpukan karya yang penuh busa dan gelembung kata-kata. Substansi cerita diselimuti oleh balon raksasa yang bernama …

Ubud Writers & Readers Festival

Pendaftaran Diri dan Nominasi Peserta Ubud Writers & Readers Festival

Pecinta sastra Indonesia

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang merupakan festival sastra Internasional mengundang nominasi dan pendaftaran diri penulis Indonesia untuk pemilihan peserta periode ke enam yang akan terselenggara pada 7- 11 Oktober 2009. Akan dipilih 10 penulis dari seluruh pelosok Indonesia.

Para penulis yang mendaftar akan dipilih oleh Dewan Kurator dengan kriteria penilaian yang meliputi: kualitas karya, dedikasi pada pengembangan kesusatraan Indonesia, prestasi dan konsistensi dalam berkarya.

Seleksi ini bukanlah ajang kompetisi maupun penghargaan sastra sebab tujuan utama proses seleksi ini adalah menyusun program festival bertaraf internasional yang membuka wawasan dunia akan keanekaragaman khazanah sastra Indonesia.

Peserta yang terpilih akan diundang mengikuti festival ini dan berkesempatan bertemu dan bertukar pikiran dengan para penulis mancanegara dalam rangkaian kegiatan festival y…

Bangkitkan Kesadaran Lewat Cerita Sejarah

Judul buku : De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme
Penulis : Afifah Afra
Penerbit: Afra Publishing, Surakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 336 halaman
Peresensi: Misbahus Surur*

Sejarah bukan hanya untuk di kubur dan dikenang, tapi juga untuk diziarahi. Novel dengan polesan sejarah, akhir-akhir ini memang membludak, bak laron di musim penghujan. Sejarah masa silam itu lantas memenuhi rongga dan nafas kekinian. Hingga menelusup masuk dalam lipatan-lipatan cerita. Sebagai salah satu novel sejarah, De Winst merupakan salah satu karya sastra yang laik diziarahi. Novel setebal 336 halaman ini, permulaan ceritanya dirajut dari kisah perkumpulan pelajar Indonesia di negeri Belanda, Indonesische Vereniging (IV), atau di Hindia lebih familiar dengan sebutan Perhimpunan Indonesia (PI).

Afifah Afra, novelis muda jebolan biologi sebuah kampus negeri di Solo, yang juga merupakan anggota dari forum komunitas penulis FLP yang memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia tersebut, beberapa kali mengeksp…

Juanda? Mengapa Bukan Bandara Bung Tomo...

Rohman Budijanto
http://www.jawapos.com/

NAMA bandara di Indonesia hampir selalu menjadi penanda khas daerah. Banyak namanya dipilih dari tokoh-tokoh terkemuka daerah itu. Beberapa contoh bisa disebut. Di Makassar, Bandara Hasanuddin. Di Ambon, Bandara Pattimura. Di Bandung, Husein Sastranegara. Di Bogor, Bandara Atang Sanjaya. Di Batam, Bandara Hang Nadim. Di Banda Aceh, Bandara Sultan Iskandar Muda. Di Lhok Seumawe, Bandara Malikus Saleh. Di Denpasar, Bandara Ngurah Rai. Di Manado, Bandara Sam Ratulangi. Di Banjarmasin, Syamsuddin Noor. Di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Baharuddin. Di Palangkaraya, Bandara Tjilik Riwut. Di Kupang, Bandara El Tari.

Memang, tak semua daerah menamai bandara dengan nama tokoh setempat. Tetapi, tetap mencerminkan kekhasan daerah itu. Padang menamakan pelabuhan udaranya Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Di Mataram bernama Selaparang karena dulu ada Kerajaan Selaparang di Lombok. Ada juga yang nama tempat, seperti Bandara Sentani di Jayapura.

Yang aga…

DESAKU MENEBAR FILSAFAT AYU

Nurel Javissyarqi*

“Fikirkanlah coretan-coretan di dinding Ibukota, adanya istilah MERDESA, sebelum meletusnya balada pemberontakan anak-anak Jatinegara”

Desa itu daerah kendali perekonomian kota. Tata letak spiritualitas pemampu berpeluang menentukan gerak-gerik bangsanya. Sekilas terlihat orang desa berkiblat pandangan kota, padahal orang kota tidak asyik lagi menatap kesehariannya. Dari desa-lah terpelihara keindahan nurani, kemanusiaan agung terpanggil menciptakan atmosfir damai. Dan tranformasi keilmuan merata di setiap sudut-sudut terpencil, ketika orang kota melupakan berkah ilmu, sebab terbius jasadiah.

Sewaktu orang-orang desa mengetahui seluk-beluk kelicikan kota, mereka kembali ke desa, bercerita mengenai kesejatian kembang hayat. Tampaknya orang kota lewat berbagai wacana, namun sewaktu dunia informasi kian terbuka, orang desa berusaha memahami keingintahuan hidup. Lalu lahirlah pandangan hidupnya, dalam menyinauhi jarak perkembangan. Serta lebih punya banyak waktu memetik se…

MENULIS DAN ASMA NADIA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: "Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah." Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD.

Sedangkan Asma Nadia yang terlahir 26 Maret 1972 di Jakarta ini memiliki proses kreatif realtif dekat dengan Helvy dan yang menarik untuk disimak. Paling tidak hal itu ditunjukkan oleh kerja kepenulisannya yang begitu produktif, 30 lebih judul buku telah dilahirkannya. Lebih dari itu, tiga buku diantaranya meraih Anugerah Adikarya Ikapi, yakni (a) Kumpulan cerpen Rembulan di Mata Ibu (2002), (b) …

Pemerintah dan Seni

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Setelah masa reformasi, keadaan Indonesia porak-poranda. Ada perdebatan di antara para ahli, bagaimana membangun Indonesia kembali. Satu pihak mengatakan bahwa untuk membangun Indonesia yang baru dan satu, diperlukan stabilitas politik. Pihak lain membantah, mereka mengemukakan bukan stabilitas politik, tetapi stabilitas ekonomi yang mesti didahulukan.

Tak ada kesimpulan atas perdebatan itu. Pembangunan Indonesia pun berjalan seret, bingung dan tetap masih dalam keadaan tersaruk-saruk sampai sekarang. Yang jelas adalah bahwa “budaya” sama sekali tidak diperhitungkan.

Padahal sudah begitu santer tuduhan bahwa salah satu musuh terbesar pembangunan Indonesia adalah korupsi yang sudah seperti “membudaya”. Sementara kemerosotan moral dan sindiran “bangsa tak beradab” muncul dari tetangga. Bagaimana tidak. Maling ayam bisa dibakar, mall diganguskan berikut pengunjungnya, manusia makan manusia seperti dalam film horror.

Kongres Kebudayaan yang bergegas…

SURAT DALAM KHAZANAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

(Bagian I)
Sesungguhnya, sudah sejak lama masyarakat Indonesia mengenal tradisi menulis surat. Para raja pada zaman kerajaan dahulu, wali-wali dan para penyebar aga-ma atau sultan-sultan ketika agama Islam menyebar dan berkembang di pelosok Nu-santara, sudah terbiasa melakukan korespondensi, baik dengan saudara atau sahabat-sahabat baiknya, maupun dengan pihak lain yang mungkin belum dikenalnya. Keda-tangan bangsa Eropa ke Nusantara, makin memperluas tradisi korespondensi mereka.

Sultan Aceh, Alauddin Syah tahun 1602, misalnya, pernah berkirim surat kepada Kapten Harry Middleton. Demikian juga Sultan Iskandar Muda tahun 1615 berkirim surat kepada Raja James I. Kemudian Sultan Tidore, Kaicil Nuku tahun 1785 juga melakukan hal yang sama kepada John Grisp yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Bengkulu, sementara Sultan Ternate, Muhammad Yasin XVIII tahun 1802, mengirimkan suratnya kepada pejabat Inggris, Kol. J. Oliver yang mungkin sebagai p…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com