Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA MARMER TEMBUS

1
Gumpalang bukit Watumalang
terhengger sang penjarah melahap suasana
Dan kelengkapan yang ditunda lama
mendengking laut pasang. Sampai tiada pelita

2
Ambang Batuluhur, seruling kekasih
kujumput legut serengut. Aku tabah juang
Makin panjang seberang-menyeberang
bagai sergapan pancalang

3
Dan tambah miskin menungan dinda
tatkala hutan cemarah jadi kancah
Tolehan tadah hayatmu
toreh-toreh di pohon perca
dalam pahat senggama langgeng

4
Mulailah membilang dari angka terkecil
sementara lamunan mengusir rasa getir
Demikian senjata bakal masuk badong
dan keris taklagi mempunyai hawa panas
Karena wayang-wayang menjarah tlatah
meski dilekati birahi berpijar

5
Adalah semangat perintis tanah
pulang dengan berkat alam raya. Usai cedera
di antara pinus-pinus nan gatal
Sanjakmu bilatung balang
membilang pedusunan paling lanang

6
Inilah kisah marmer tembus, wahai sedulur
perkenalan pada belantara, nyaris tanpa permisi
Begitusaja terpampang meja sakti menggerutu:
kita butuh getah-getah para yang berpeluh
Ah, seaka…

Sajak Ahmad Muchlish Amrin

SENANDUNG LERENG BUKIT RANTANI

-Non torno vibo alcun, s’iodo il vero
senza tema d’infamia it rispondo – Dante

a/
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada seribu gubuk menyalakan senja
di antara batu-batu kecil sekeras rinduku dan pintu-pintu terbuka
bagi perempuan-perempuan yang melongok ke luar jendela; menatap
kering setapak meliuk dan mekar kembang jagung bagai awan-awan tipis
digesek angin.

(Konon, perempuan-perempuan itu tinggal di tirai bambu dan memakai
sandal kayu. Kini, memasang antena parabola dan rumah kaca)

Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu kudengar suara dari dalam gua
memanggil anak rantau yang hilang dan perempuan-perempuan kencing
di atas lobang dan burung-burung turun ke lembah bertekukur di atas
bunga solang. Aku menumbang ilalang yang menusuk bulan.

(Memang, anak bukan bermimpi pulang ke bulan,
anak matahari pulang ke matahari)

Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada anak-anak lempung lempang
berjalan menuju puncak. gerak serak beranak pinak di gubuk; anak padi
pada merun…

Sajak-Sajak Tjahjono Widijanto

http://www.lampungpost.com/
DI MEJA MAKAN KELUARGA

Kami senantiasa berhadapan-hadapan di meja makan ini
medan pertarungan yang galak dalam gemuruh denting gelas,
piring, sendok, garpu juga pisau roti yang meringis
saling intai sebelum saatnya tiba

Ibu selalu mengingatkan
"kunyahlah lembut nasi, daging atau kerupuk
sampai hitungan ke empat puluh
ususmu akan aman meremas-remas dan mereka
mendekam lelap sempurna di perutmu"

Di ujung lain, kakakku mengongkel sendok
mencuil daging dan mengiris buah
secepat kilat melempar ke dalam mulutnya
lidah keras mengecap-ngecap; cap, cap, cap

Ibu langsung menyerbu
"suaramu itu mengingatkanku pada lidah serigala
yang kulihat di kebon binatang wonokromo!"

Di seberang lain, adikku perempuan langsung
tersenyum meringis terkikik-kikik, lalu buru-buru
menutupi mulut dengan serbet belacu
"kalau dengar kebon binatang itu
aku jadi ingat pacarku
di bonbin wonokromo kencan pertamaku
sembari menonton kera bersenggama"

Di ujung lain dengan jakun gemetar
bapak …

MENGUAK TABIR PUJANGGA RABINDRANATH TAGORE KE TANAH JAWA*

Dipersembahkan kepada Rabindranath Tagore, buyut Kasipah dan tanah Jawa.
Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=66

Prolog:

Di usianya yang ke 69 bagus Burhan (nama kecil R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873), pujangga India Rabindranath Tagore dilahirkan dunia. Tepatnya di Joransko, jantung kota Kalkutta pada tanggal 6 Mei 1861. Sebagai putra keempat belas dari lima belas bersaudara, atas pasangan Maharishi Debendranath Tagore dan Sarada Devi. Atau 6 tahun setelah wafatnya Pangeran Diponegoro (1785-1855). Kakek buyut Rabindranath Tagore ialah penggerak Renaissans India, yang bernama Rommohan Roy.

Dengan sahabat karibnya Mahatma Gandhi (1869-1948), Tagore dianggap oleh masyarakat India sebagai perlambang insan setengah dewa. Tahun lahirnya bersamaan dengan seniman ambisius Frederic Remington (1861-1909) yang karyanya berupa lukisan, pahat dan tulis. Di tahun itu pula Abraham Lincoln (1809-1865) terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

Karya-karya Rabidranath Tagore (1861-1941) di anta…

JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL (JILFest) 2008

Sumber, http://www.jilfest.org/

Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, kota internasional, dan berbagai predikat lainnya — yang melekat pada reputasi dan nama baik Jakarta yang merepresentasikan citra Indonesia — memiliki arti penting tidak hanya bagi warga Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia. Artinya, posisi Jakarta sangat strategis bagi usaha mengangkat keharuman Indonesia serta menjalin kerja sama sosial budaya untuk memperkenalkan Indonesia dalam pentas dunia. Jakarta — yang juga dapat dimaknai sebagai miniatur Indonesia — dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi masyarakat dunia untuk mengenal berbagai kebudayaan etnik yang tersebar di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, penting artinya mendatangkan masyarakat dunia ke Indonesia melalui Jakarta. Dalam kaitan itu penulis (sastrawan) sesungguhnya alat yang efektif untuk memperkenalkan dan mempublikasikan Jakarta ke masyarakat manca negara. Dalam hal itulah program Jakarta Internati…

BELAJAR MENULIS DARI KURNIA EFFENDI*

Sutejo

Dalam laporan gagas utama Mata Baca, edisi September 2005 (hal. 10-11), diungkapkan beberapa pengalaman yang kemudian menjadi tips menarik seorang cerpenis muda Indonesia yang sangat handal. Ia adalah Kurnia Effendi, yang lahir di Tegal Jawa Tengah 20 Oktober 1960. Berikut merupakan tips menarik itu: (a) membuat 10 file sekaligus untuk 10 calon cerpennya, (b) terinspirasi indera visual kemudian menyusur ke audio, (c) kala mood hilang melakukan kegiatan rutin atau mengerjakan sesuatu yang kita suka, (d) disiplin dalam menulis merupakan keharusan tetapi ingat jangan melakukan diri kita seperti robot, dan (e) jika naskah ditolak kita perlu arif menerimanya, anggap cerpen itu tidak cocok untuk media yang bersangkutan.

Bandingkan kemudian hal ini dengan apa yang di-tips-kan Hamsad Rangkuti. Ia menyarankan pada kita begini (a) mulailah meninggalkan beberapa kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan menulis, (b) banyaklah membaca karena semakin banyak yang bisa kita peroleh, (c) dialog …

MENYISIR KEPENULISAN PROFETIK ABDUL HADI

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Pada tengah Juni 2008, saya sempat ngobrol bersama Abdul Hadi sebelum menjadi pembicara dalam rangkaian diskusi hantaran pengukuhan guru besarnya. Abdul Hadi sendiri adalah pelopor sastra profetik –yang sampai sekarang—tetap konsisten dengan pilihan pengucapan dan corak kekaryaannya. Pada acara diskusi di Universitas Paramadina Jakarta itu saya menyebutnya nabi, karena secara filosofis kepenyairan di Yunani adalah “proses kenabian”. Penyair adalah nabi kehidupan karena menyuarakan ruh-ruh kenabian. Budi Darma menyebutnya dengan rhapsodist: orang yang bergagasan cemerlang dan berbahasa secara cermerlang pula.

Lelaki profetik itu pernah mengikuti International Writing Iowa tahun 1973-74 dan lulus Ph.D. dari Universiti Sains Malasyia dengan disertasi Estetika Sastra Sufistik: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Syaikh Hamzah Fansuri (1995). Pada 1978 dia mendapat hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta; 1979 memperoleh Anugerah Sen…

Puisi-Puisi Dian Hartati

Kamar Beraroma Apel 2

inilah garis singgung yang kucipta
sebuah dunia yang mendedahkan segala rasa
ketika tawa dan cerita hanya milikku
tak terdengar oleh sesiapa

di sinilah sudutbumi kuhamparkan
petapeta rahasia kubentangkan
penuh kepak kupukupu
kesegaran aroma apel
kecerahan matahari yang selalu bersinar
juga lelembah yang antarkan aku pada sebuah cahaya

di hampar permadani yang sejuk
kusebutsebut sebuah nama
juga kutuliskan banyak puisi
untuk mengenangkan seluruh kisahku
mengabadikan tangis yang diantar sebagian rasa gundah

jika kau masuki tempatku berada
lihatlah sketsa hidupku
seseorang telah melukiskannya untukku
di beranda sebuah mall
ketika angin memenjarakan aku di senja kota bandung

telusurilah angan yang kucipta
langkahlangkah sepasti sejarah
lekuk gairah yang lebur di tubuhku
semua menghadirkan senyuman yang banal

SudutBumi, 07 Maret 2008



Sketsa Hati

hatiku bukan hijau
ia ungu seperti yang tumbuh di mataku
ia dalam menutupi sumur kenangan
ada luka di hatiku
yang selalu gerimis
jika seseorang melihat di k…

Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin

De Javu

Kasih;
Dalam tidur malamku, kamu datang dengan sebilah tanda tanya, tanda
tanya mirip gumpalan titik koma, kurasakan lembab tanda seru
bersembunyi pada batang takdir yang kucipta dalam rahim ibu.

Seperti garis peta yang menghunjam jantungku, ingin kutafsir jalan nasib
lewat petualangan tiada akhir.

Aku menangkap wajahmu serupa wajah dalam mimpi-mimpi, wajah yang
datang tiba-tiba di keheningan batinku.

Aku merindukan kurung buka untuk merapal nama-nama bintang
sesuai angka kelahiran dan
kutemui wajah-wajah yang sama meski beda nama, mereka pergi bila
kutanya.

Aih, rupanya aku sudah mulai gila padahal belum kutulis kurung tutup
lewat tangan yang gemetar jika mendengar namamu disebutkan

Ibu;
Meski semakin jauh aku berjalan, semakin terjal jarak kampung halaman:
itulah kepulangan. meski nasib tak menentu dan kenangan-kenangan
gugur di jalanan; aku masih bertualang.

Selalu aku menyusu pada matahari yang terbit dari do’amu meski cahaya
kisut dan usiaku makin keriput
lihatlah, Ibu! lihatlah gambarku dala…

Seni(man) yang Terbelenggu

Marhalim Zaini
http://esai-marhalimzaini.blogspot.com/

Untuk memulai tulisan ini, saya hendak mengutip satu paragraf penting dalam salah satu esai Putu Wijaya. Begini bunyinya, “Tidak mudah menjadi seniman, kalau seniman bukan diartikan sebagai sekadar label dan status, tetapi fungsi. Sebagai fungsional ia dituntut untuk bekerja. Bekerja tidak hanya kalau ia sedang bernafsu, ketika tanpa nafsu pun ia mesti berekspresi. Karena kalau tidak berkarya ia berarti tidak berfungsi. Seni bukan lagi kesenangan, meskipun bisa menyenangkan sekali. Seni adalah pencarian yang tak pernah selesai. Sebuah tugas yang tak bisa ditolak. Bahkan sebuah kutukan bagi dia yang tak bisa memilih lain kecuali jadi seniman.” (Bor, 1999).

Itu kata Putu Wijaya. Seorang pengkarya yang sangat produktif. Sosok seniman yang sejak SMP sudah menulis cerpen dan main teater. Dan sampai kini, ketika rambutnya sudah ditumbuhi uban dan kulit wajah mulai berkeriput pun masih dengan semangat berkarya. Terakhir ia sms saya, yang me…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan