Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I - LXXIV

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=225

Bisikan hujan malam mengajakmu menari-nari membasahi seluruh tubuh,
mengguyur jiwamu bersayap beku, lantas nyalakan tungku dalam kalbu (V: I).

Bayu meniup api melambai, bara bergolak ke uluh hati, dan prasangka
tumpah merajah prahara, menelusup ke dada, meruh ke dalam sukma (V: II).

Sekian kali, awan berkendara bayu, berbondong ke pusaran langitan,
menumbuhkan cahaya kilat berkelebat beserta bayangan kematian (V: III).

Di atas ketinggian dahan, ruh para malaikat penunggu bukit datang berseru,
bergelombang siur bayu berkilau, membusa liar di pantai, pada kulit luka menerawan,
ia menghisap arus keringat perjuangan, haus akan madu kapujanggaan (V: IV).

Berdegupan tetembangan memusari ombak empedu dan pahit di lidah
serasa madu kala bercinta, jika berkisah terhenti oleh hukum waktu keluh (V: V).

Kebekuan kembali mengalir sedari palung semedi,
hadirlah selagi usia memberi, menjangkau hari-harimu,
memudahkan sederet kengerian di akhir perjamuan (V: VI)…

Jenius Lokal Berperahu Cadik

Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Grathia Pitaloka

Kampung halaman sangat mewarnai sastra Indonesia; bahkan jadi paradigma berpikir yang tak terpisahkan.

Pada era 1970-an, perkembangan sastra Indonesia pernah menggeliat kembali ke akar. Karya sastra yang dianggap ideal, harus memiliki muatan atau warna lokal, di mana secara simbolik dan geografik merujuk ke kampung halaman.

Tak banyak orang yang mampu mengeksplorasi tanah kelahirannya, untuk kemudian dirajut dalam bait-bait puisi. Dari segelintir itu, nama D Zawawi Imron layak disebut sebagai salah satu yang sempurna. "Ia menyerap simbol-simbol yang ada di Pulau Madura untuk kemudian diangkat jadi sebuah warna lokal yang unik," kata penyair Acep Zamzam Noor kepada Jurnal Nasional, Selasa (23/9).

Eka Budianta menyebut Zawawi sebagai seorang jenius lokal, yang dengan pendidikan formal minim, berhasil melakukan penghayatan mendalam atas kebudayaan dan masyarakat Madura. "Berbicara mengenai Zawawi, sama artinya dengan mengulas keprib…

Si Celurit Emas dari Batang-Batang

Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Dwi Fitria

Dalam puisi-puisi Zawawi Imron, muatan lokal yang kuat kerap dipadukan dengan nilai-nilai religi dalam pengertian luas.

Ada dua hal yang menjadi kekhasan puisi-puisi Zawawi Imron. Yang pertama adalah hadirnya idiom-idiom lokal Madura yang merupakan daerah asalnya, dan yang kedua adalah muatan Islam yang kerap muncul.

Dalam puisi-puisi semisal Celurit Emas, atau Ibu, Zawawi berhasil mengangkat sebuah kultur Madura yang mematahkan stereotip yang kerap dikenakan kepada masyarakat Madura.

“Dalam puisi-puisinya, Zawawi mengangkat citra budaya Madura yang positif. Selama ini citra Madura bagi sebagian orang mungkin identik dengan baju kaus lurik, sate, atau celurit. Dalam puisi-puisi Zawawi Imron justru menampilkan sosok orang Madura yang berbeda, yang mencintai lingkungan dan laut sebagai bagian dari kehidupannya,” kata kritikus sastra Maman Mahayana.

Puisi-puisi Zawawi juga kerap menggambarkan idiom-idiom budaya Madura dengan cara yang berbeda. “Garam dar…

BAYANG DAN BOYONG

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Mari kita silakan para tamu memasuki baluwarti ini, saudaraku – ketika barisan yang kita nanti-nantikan sudah mulai memperlihatkan langkahnya yang tegap dan tegas. Marilah kita persilahkan para sanak-kadang yang sudah semalaman berkuyup-embun di luar pager-banon sana, dan biarkanlah mereka pagi ini ikut menikmati selamat datang ini.

“Tiada yang lebih membesarkan hati daripada keluwesan yang berbicara, lantaran dorongan jiwa yang sepatutnya. Tiada yang lebih mewakili kelugasan sejati katimbang pertimbangan yang diambil pada awal kelahiran sebuah hari – lantaran itulah titiwanci utama untuk menunjukkan harga kewibawaan,” demikian rantunan kalimat anda, pada kesempatan untuk membeberkan, seberapa jauhnya Anak Manusia berperang dengan Ayahbundanya dari seberang, buat menemukan wujud gairah yang tak – tertebak. Maka, aku mungkin harus menerimanya untuk sementara, sebagai satu bagian dari tiarapku sendiri, sebelum pada saatnya mengepalkan tinju ke hadapan.

Jangan he…

Amuk Tun Teja

Riau Pos, 15 April 2007
Marhalim Zaini

Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucap salam, seorang perempuan renta berkebaya lusuh masuk ke kantorku, dan langsung duduk di kursi tepat di depanku. Dari tatapan matanya yang sipit dan hampir terjepit oleh kulit kelopak-keriputnya, ia tampak sedang memendam sesuatu yang teramat dalam. Dan dari mulutnya yang masih tersisa warna merah sirih, melompatlah peluru kata-kata.

“Air dalam bertambah dalam/hujan di hulu belum lagi teduh/hati dendam bertambah dendam/dendam dahulu belum lagi sembuh! Sampai hati kau, Tuah! Kau renjis -kan minyak wangi guna-guna itu ke ranjangku. Pengecut itu namanya!”

Alahmak, orang tua gila mana pula ini? Pagi-pagi berpantun-pantun menuduh orang sembarangan. Mulutnya bau gambir pula. Kok bisa-bisanya sampai tersesat masuk ke kantorku?

“Begitukah cara seorang pahlawan besar yang diagung-agungkan menaklukkan hati seorang perempuan? Tak adakah cara yang lebih jantan? Aku ini perempuan, Tuah! Perempuan yang sama dengan perempuan lain…

Puisi-Puisi Amien Wangsitalaja

HIATUS
-pesan mai

selagi masih ada ruang keberanian
biarkan
kehendak yang tak masuk akal
menaruh kepercayaan, bahwa
takkan ada pengucilan
akibat kebencian, atau
hukum manusia

selagi masih ada ruang kelembutan
biarkan
diri mengembara
menghayalkan
sebuah pertemuan, yang
mendebarkan



BIDUK

1
suatu hari
aku menghadiahi kapal mainan
berbahagialah anakku pertama
karena memiliki teman bercanda

kapal itu, kataku
tidak akan berangkat tanpa keyakinan

2
istriku meragukan
makna keceriaan anakku kedua
karena ia tertawa
setelah kapal mainan jatuh terlempar

aku ragu, kata istriku
apakah tiang layar tak bisa patah?

3
segera kusembunyikan kapal mainan
sengaja aku ingin menggoda
agar kedua anakku marah
dan istriku masam-masam cuka

hai kalian, kataku
siapkan pelampung

4
kupikir
aku seorang pelaut
dengan membeli kapal mainan
dan membincangkan laut

tanpa ombak, kataku
laut bukan laut

5
kupikir
istriku mudah berang
jika kapal mainan sering tenggelam
dan hatinya pun

kukutuk malam, katanya
kenapa orang suka berlayar



AMSAL MUSA 1

kutulis singkat cerita
dari kein…

Jaring Batu

Cerpen CWI 2006, terangkum dalam antologi Lok Tong.
Marhalim Zaini

“Betul-betul makan sumpah jaring batu ini, Cuih!” Ludahnya bau pahit kesumat. Tiap hari, bahkan tiap saat. Tiap ia teringat kepala kekasihnya tergolek bagai sebongkah kelapa, teregok-egok dalam gelombang laut Selat Melaka, teregok-egok pula dalam pasang air matanya. Entah telah berapa gantang ludah untuk menyumpah-nyumpah yang tumpah dari mulutnya, di sepanjang beting, sepanjang tepian pantai abrasi, sepanjang hari-hari sesenyap mati.

Panggil saja ia Siti. Boleh Siti Lengkong, boleh Siti Ampung, Siti Sianah, Siti Nurhalizah pun boleh. Tak ada yang hirau sangat dengan sebutan nama di belakang nama Siti, sebab semua perempuan di kampung Parit ini merasa tak ada yang berbeda dengan diri mereka. Yang namanya perempuan ya sama saja. Sama-sama tukang toreh getah , sama-sama tukang anyam pandan, sama-sama tak tamat sekolah, sama-sama jadi bini nelayan. Tapi, Siti yang masih gadis ini, yang suka menyumpah-nyumpah ini, tiba-tiba …

Negara Ini Memang Butuh Pemuda...

Bernando J. Sujibto

Benar. Negara ini memang butuh pemuda untuk maju dan sehat dalam setiap mekanisme yang dijalaninya. Saya bukan hendak mengatakan kalau pemimpin masa depan Indonesia harus di tangan generasi muda. Tapi yang jelas spirit muda di tubuh yang muda pula akan cepat dirasakan perubahannya dalam setiap denyut kehidupan ini. Hal itu tidak dapat terhindarkan karena peran pemuda telah menjadi sejarah terpenting sejak awal Indonesia berdiri.

Sejak era Soekarno berakhir kendali pemerintahan Indonesia di bawah penguasa lima presiden sejak rezim Orde Baru hingga Susolo B. Yudhoyono telah dilakoni oleh kaum tua. Soeharto maju menjadi presiden dalam usia 57 tahun, Habibie , Gus Dur , Megawati , SBY . Mekanisme kenegaraan yang dipegang kaum tua selama hampir setengah abad lamanya telah menunjukkan gejala apatis. Arena pemerintahan pun menjadi tempat paling ‘basah’ untuk mempertahankan kekuatan absolutisme kekuasaan yang terselubung d bawah "rezim tua". Sehingga proses regener…

Kopi Senja di Negeri Siti

Suara Merdeka,15 Feb 2004.
Marhalim Zaini

Siak, sungaimu menyulapku. Perempuan itu, kaurendam di dada senjamu. Pekat hitam rambutnya, setiap kali kaubasahi, tumbuh ribuan bunga kenanga. Menyambangi hidung lelakiku. Segera, di taman imajinasiku, segala yang terindah merekah. Entah di mana tiba-tiba lenyapnya gubuk-gubuk yang runduk di sepanjang tepian sungai itu. Sampah-sampah yang terapung di bawahnya pun seolah menjelma bunga seroja yang digoyang ombak kecil dari sampan-sampan yang ditambatkan. Semua tampak serba indah. Rimbunan hijau dedaunan bakau itu, lihatlah, ia tiba-tiba menjelma sebuah lukisan impresif, penuh misteri, penuh imaji. Ah, perempuan itu di mataku seperti bidadari. Bidadari yang kerap disebut dalam cerita fiksi. Bidadari yang setiap senja mandi di sungai Siak dengan rambut basah tergerai. Bidadari, yang kata orang sini, sama dengan putri kahyangan yang turun dari langit setiap bulan purnama. Perempuan selembut embun dengan selendang sutera seputih salju.

Tapi perempuan…

BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I - XCIII

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=229

Istirahlah perempuan agung, sambut mentari esok lewat sedenyar fajar
dan tunjukkan wajah berserimu di hadapan cahaya (III: I).

Bila berjaga, dekaplah kantuk berselimutkan mesra,
akan tetapi lebih terpuji, mengupas berbathin ketenangan (III: II).

Sebab tatapan setia, sepenantian terbangunnya mimpi
selepas pulas mendengkur, atas tegukan anggur kelelahan (III: III).

Penjagaannya tanpa membuatmu serba salah,
dia tidak bodoh menciptakan cermburu,
atau terpenggal pengamatan was-was (III: IV).

Perhatian lembutnya tak sampai merobohkan
yang sedang kau bangun dalam genggaman (III: V).

Jika kekagumannya merepotkanmu, dia rela meninggalkan dirimu
sambil membawa sebuah arti-kata terima kasih (III: VI).

Kalau tentrammu oleh mekarnya payung sekalipun pergi jauh,
tudung itu meneduhkan di kala terik-hujan menimpa (III: VII).

Ia kejadiannya, sedang kau berkas-berkasnya,
ia peniup angin, sementara kau pelukisnya (III: VIII).

Asalnya waktu dari kesadaran usia
dan tidak m…

Balada Bronjong

RPA. Suryanto Sastroatmodjo

(1)
Seakan peta tua lepas dari pigura
begitu para anakmuda singgah dalam ziarah
Adakah sebuah balairung pengadilan
yang memulung ragu jiwa dan menghentaknya?
Asalkan diri bukan tersisih
asalkan bukan sebagai si Pahit Lidah
hanya meludahi pawang seribu
bakal mengantar sesosok pawang berderu



(2)
Bronjong seperti pajangan hayat
dan dari bianglala sana, Gusti
tertangkap oleh lipatan setangan
aduhai, pantai keramakhmanan, paduka
Lalu kabut menghalang lesu
pada kabar kawalan umur
pertanda justa pula yang dilembur!



(3)
Namun sebilik gubuk-gubuk duka
kau menggembalakan dukacita
Terkadang harus ada yang ditembangkan
pabila malam gading hadir sejangkah
Irama apa yang dideru gelisah, buyung
bronjong-bronjong bendungan lantung
niscaya kasih kesaksian satu
pada senda hari nan memuput



(4)
Mari, hidupkan pelitamu lagi
jikalau perjalanan menigas musibah, konon
tertukik dari laras senapang, tinggal sebendul lakon
Bagai kurungan dengan penghuni: serangkum
melagukan ketuk-ketuk duniawi
Barangkali ada yang di…

Ombak

Jurnal Nasional, 14 Sep 2008
Arie MP Tamba

Ombak itulah yang membangunkan aku lagi padamu:
rambutmu masih hijau meskipun musim berangkat coklat.
Kujahit lagi robekan-robekan tahun pada gelisahku
dan darahmu kembali mengatakan yang ingin diucapkan jantung.

Dulu angin musim panaslah yang mendudukkan aku di sampingmu
dan atas ranjangmu ia tambatkan desirnya memeluk tidurmu.
Kau pun terima aku seperti pohon menerima benalu
dan aku mengikutimu seperti mata batu mengikuti suara di udara.

Garam adalah garam. Ia bisa lebur dalam air
tapi tak dapat lenyap atau dilenyapkan. Dari jauh
kupinjam mulutmu buat meneguk gelas-gelas kosong waktu
dan memberi jalan pada pagi hari lain yang tak mungkin datang.

(Abdul Hadi WM, Tergantung pada Angin, 1977)


Kritikus sastra asal Belanda, A Teeuw (1980) secara khusus memilih sajak Ombak Itulah untuk menjelaskan "kepenyairan" Abdul Hadi WM di antara para penyair penting Indonesia lainnya. Ia menyebutkan, Abdul Hadi adalah seorang penyair imajis Indonesia, yang terus…

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan