Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2008

Perjalanan Panjang nan Sejenak

Judul Buku: Kitab Para Malaikat
Pengarang : Nurel Javissyarqi
Pengantar : Maman S. Mahayana
Epilog : Herry Lamongan
Jenis Buku: Antologi Puisi Tunggal
Penerbit : PUstaka puJAngga
Tebal Buku: x+130hlm;15,5x23,5cm
Peresensi : Imamuddin SA.

Hidup di dunia ini merupakan sebuah rangkaian perjalanan panjang namun sejenak. Dikatakan panjang sebab kehidupan manusia di dalamnya harus melalui beberapa fase. Secara fisikal, dimulai dari fase pembentukan jasad. Kelahiran dalam wujud balita. Kanak-kanak. Dewasa. Tua. Lanjut usia. Lantas tiada. Belum lagi perjalanan secara ruhaniah. Yaitu yang dimulai dari tataran syariat, hakikat, ma’rifat, serta fase penyatuan. Kesemuanya itu merupakan sebuah proses pencarian kesempurnaan dan jati diri kemanusiaanya. Dan rentang waktu antara fase satu ke fase yang lain itu cukuplah lama. Berpuluh-puluh tahun.

Dikatakan sejenak sebab dunia ini fana yang bersifat tidak kekal. Begitu juga dengan manusianya. Secara jasadiah, manusia pasti mengalami kematian di dalam dunia…

Puisi-puisi Pringgo HR

Berperahu

simpulsimpul di tiang rindu
engkau urai satusatu kian longgar membebat
renggangi ruas rasa pada camar camar yang resah
benturan debur

luka kain layar mengolengkan perahu
berpusing di pusaran angin yang tak pernah setia
meniti setiap lengkung gelombang

tinggalah tiangtiang telanjang berdiri mengurus
menghitung angkaangka di kalender nasib
berharihari merasai panggang matahari

berayunhayun perahu berpayung ombak
selalu menikung
di setiap bentur.
di setiap tubi cambuk debur
membuat papanpapan setia meretaki
luka

barangkali semisal Nuh
menenggelam sayatan satu demi satu
atau terdampar
menyisahkan tanda
dari pantai ke pantai
dari musim ke musim

saksi aku dan engkau
pernah berperahu

Babat, 16 September 2006



Oktober Ke 20 - 2006
: untuk C.I3

malam ini menyuntingmu masuk dalam dekapan
tanpa rembulan hanya angin dingin yang mengabar
oktober segera menjatuhkan gerimis yang pertama
rerintiknya membasahi lincin antara jalanan maret
sampai tepian rindu

aku terpelanting terjerembab
di semak katakatamu yang m…

Sajak-sajak Heri Kurniawan

Tak Perlu Sesali

Kau yang layu dipucuk pena
Bendunglah segala tangis
Buka kembali kelopak matamu
Mekar menatap kebiruan

Aku yang tertatih-tatih
Memungut air matamu yang embun
Berceceran di jalanan tanpa batas
lemas



Tlah Ku Semat Janji

Melipat pintu sunyi api
Mensaljukan kembali luka-lukamu dan
tak perlu sungkan mengetuk kembali

Lembaran terang telah menanti
Menghadirkan jamuan rembulan di musim semi

Tak perlu lagi sesal
Semua telah tertinggal
Kita songsong dunia baru
Tulislah lembaran cinta
Hapuskan buram kelam

Jombang. 27 mei 2006



Bukan Siapa-Siapa

Aku bukan dia
Aku adalah aku
Dia adalah dia
Telah kulepas kau terbang
Aku takkan bermanja lagi

Jogja. 4 januari 2007



Di Tengah Arakan ayatMU

Dalam pekatnya suasana
Ku kais secerca cahaya malam
Mengugah kesadaran hati

Di tengah arakan ciptaMU
Ku panjatkan sagala rasa
Pada semilir angin
Menerpa hijaunya daun

Jerat dunia tlah usai

Jogja 06’



Aku Merindukan PenerangMu

Aku ingin memecah sunyinya malam ini
Dengan hembusan nafasMu
Menyuluh gelapnya kalbuku


kini remang telah menyelimut cah…

KEPOMPONG

Mardi Luhung
diambil dari Koran Tempo, 20 Juli 2008

”Sekak! Matilah rajamu. Raja hitam. Hitam yang begitu mencekam. Yang matanya juga hitam. Dan jubahnya berkibar dengan irama saluang. Tepat rembulan bulat penuh. Dan sekian ekor anjing kelabu mengendus-ngenduskan hidungnya,” dan itu kataku. Terus menghisap siasat. Siasat masuk ke paru-paru. Aku tukikkan ke dalam yang paling dalam. Lalu aku hembuskan keluar. Gulungan siasat pun membentuk lingkaran. Lingkaran kecil. Lalu agak membesar. Membesar. Dan buyar. Tapi bau tengiknya tetap bertempat.

“Mati? Kok gampang. Apa kau pikir, raja hitamku seperti cecunguk yang ketinggalan harapannya. Lalu menghunus pedangnya. Dan crap! Menghunjamkan ke lambung sendiri. He, he, he, itu mimpi,” jawabmu. Seakan menjawab teka-teki silang yang sudah ada kuncinya. Dan kau, dengan gesit tapi pelan, melangkahkan bayangan raja hitammu ke petak pojok. Ada kesiur ombak yang menerpa tebing. Dan ada seseorang yang perawakannya kabur melintas. Siapa orang itu. Lelaki a…

Catatan Perjalanan "DIA-WALI" dari Balam

Pernah dimuat di majalah Gerbang Massa

Cerita ini bermula saat saya habis ngelayap dari Bandar Lampung, kotanya penyair Opera Kebun Lada (judul antologi puisi Y. Wibowo). Sebelum berkisah jauh mengenai judul, sebaiknya saya mencuplik beberapa perolehan dari pelayaran Bakauheni menuju Merak.

Di tengah selat, dalam kantong kapal laut kelas ekonomi, saya melihat burung elang Jawa menyebrani ubun-ubun gulungan ombak samudera, kelepakan sayapnya seimbang perkasa, perutnya terisi tiada lebih, dan tak kurang di tengah lawatan.

Saya jadi berfikir, kenapa saat diri ini sudah berada dalam perut kapal menuju Merak, elang Jawa itu malah hendak menyebrang ke tlatah Sumatra. Jangan-jangan ada yang tertinggal dari perjalanan saya? Telapak kaki, kabut yang kan menjelma awan rindu. Atau ada sesuatu perjanjian dengan pulau sebrang itu?

Diri merasakan, burung itu kan hinggap di badan kapal yang sedang saya tumpangi sebab kelelahan, namun tak. Ia memilih mengapung di atas ketinggian gelombang sejarak sepuluh…

Puisi-puisi Kirana Kejora

LELAKIKU DAN KUDANYA

Lautan pasir jiwanya selalu menggunung
Tak tersisir guratan luka tatihnya
Dia terus memacu kendali
Bergulat dengan amarah
Berrebut cairan-cairan darah
Dia tak ingin mati

Cemara yang memucuk
Terus tertejang derap kudanya
Libasnya begitu liar
Tumpahkan semua energinya
Dia selalu diam tak bicara padaku
Namun lembut membisikiku
Menitah tatih langkahku
Dia ingin kemudikan dunia
Melalui pelana bajanya

Trah tak angkuhkan busung dadanya
Dia terus melawan sakitnya
Rerimbunan jiwa yang lapuk
Ditebasnya dengan Atalla

Aku mulai kagum
Lelakiku yang tak pernah turun dari pelananya
Memacu detak hidup dengan kembaranya
Yang masih sulit aku runuti jejaknya

Bumi Samudra, Surabaya, 070507



SURAT KEPADA ILALANGMU

Pada ilalang kutawarkan secangkir embun
Buat redam takutku
Aku hanya pijar
Yang berujar sendiri pada langit
Jadikan tarian lekukku
Menjadi persembahan surga
Yang menjadi
Tetes dahaga hasrat tandus padangmu

Mohonku kepada getaran
Rasuki jiwaku untuk terus bertunas
Menjadi pohon-pohon kembara
Gelinjangkan lelaku r…

Menziarahi Karya-karya Sang Maestro

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
Sri Wintala Achmad

Manakala bertandang ke rumah seorang kawan, perhatian saya terserap habis pada coretan-coretan liar dan naïf di dinding ruang tamu yang membentuk gambar binatang, mobil, kapal terbang, atau orang. Tanpa bertanya pada kawan tersebut, perkiraan saya tidak bakal meleset. Gambar-gambar itu pasti karya anak-anaknya. Manusia-manusia kecil yang mulai membutuhkan penghargaan atas karya-karyanya, serta pengakuan eksistensinya dari lingkup internal (orang tua dan keluarga) atau lingkup eksternal (orang luar).

Tanpa pertimbangan teknis yang menyoal nilai-nilai estetika di dalam dunia seni rupa, saya menangkap kepolosan pribadi, kebebasan bersikap, dan kesederhanaan berfikir anak-anak di balik visual karya tersebut. Masalah inilah yang sering membuat jengkel kawan saya. Maklum, ia selalu menghendaki rumahnya dalam suasana rapi, tertata dan bersih. Sementara bagi pecinta anak-anak, gambar-gambar di dinding ruang tamu itu justru tampak rekreati…

Narasi Sastra Religius

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
Hamdy Salad

Segala sastra, baik puisi maupun prosa, tak pernah lahir dari ruang hampa. Selalu saja tersirat di dalamnya jejak-jejak kehidupan manusia. Jejak-jejak yang dapat dibaca secara estetis melalui kenyataan psiko-individual, sosio-kultural, dan religio-spiritual. Itu sebabnya dalam dinamika sejarahnya sampai kini, banyak definisi dan istilah sastra yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya apa yang sering disebut dengan – sastra religius.

Sebagai salah satu di antara istilah populer dalam perekembangan sejarahnya, bahasan mengenai sastra relegius telah menjadi perdebatan dari masa ke masa. Bahkan telah dianggap sebagai genre (aliran) tersendiri dalam ranah kesusastraan. Sehingga lahir pula istilah-istilah lain yang berdekatan denganya. Seperti sastra mistik, sastra holistik, sastra transenden, sastra filsafat, sastra pencerahan, sastra terlibat dunia dalam, dan lain sebagainya.

Di tengah laju globalisasi terkini, keberadaan wa…

Selamat Jalan Mas Sur

Jurnal Kebudayaan The Sandour III, 2008
Herry Lamongan

RPA Suryanto Sastroatmodjo dikenal sebagai pengarang sastra Jawa modern. Pernah mengasuh rubrik “Bokor Kencana” Harian Berita Nasional (Bernas), ialah rubrik tanya jawab tentang budaya Jawa. Penjaga gawang rubrik “Sampur Mataram” harian Kedaulatan Rakyat (KR) yang juga membahas masalah budaya Jawa. Dan mengetuai Paguyuban Macapat Selasa Kliwon di hotel Garuda Yogyakarta.

Bupati anom sifat kapujanggan Keraton Surakarta dengan gelar KRT Suryo Puspo Hadinegoro ini, telah wafat Selasa Kliwon 17 Juli 2007 pukul 10.00. Dimakamkan hari Rabu 18 Juli 2007 di Pesareyan Pakpahan, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Kepergian budayawan kondhang ini cukup mengagetkan berbagai kalangan. “Pada malam Selasa Kliwon beliau masih tampak menghadiri acara macapatan di Hotel Garuda,” ungkap Nugroho, salah satu aktifis kegiatan itu. Pemimpin Redaksi Harian Kedaulatan Rakyat, Drs.Octo Lampito juga mengaku terkejut mendengar kabar wafatnya Mas Sur. Lebih lan…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com